| Jumat, 06 Mei 2005 | EKONOMI |
Efektif, Kenaikan Bunga SBI 25 Basis PoinJAKARTA- Bank Indonesia (BI) selaku otoritas moneter merekomendasi empat langkah utama untuk meredam laju inflasi serta mempertahankan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. ''Pertama, melakukan operasi fine tune contraction (FTC) skema swap untuk menjaga nilai rupiah. Selain itu, mengubah komposisi net open position (NOP) dan tentu menaikkan lagi suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI),'' kata Miranda S Goeltom, Deputi Senior Gubernur BI di Gedung BI Jakarta, Rabu lalu. Menurut dia, rekomendasi kebijakan BI itu merupakan hasil rapat Gubernur BI Burhanuddin Abdullah bersama para Deputi Gubernur. Langkah mendasar dan dirasakan efektif untuk mempertahankan nilai tukar rupiah adalah menaikkan suku bunga SBI di kisaran 25 basis poin. ''Menaikkan suku bunga SBI efektif untuk menyerap likuiditas pasar. Hal itu terlihat pada volatilitas rupiah, meski BI terus mengevaluasi setiap langkah yang diambil,'' jelasnya. Terkait dengan perubahan komposisi NOP, Miranda menambahkan komposisi yang semula 30% menjadi 20% hanya bersifat sementara, karena nanti akan dikembalikan ke posisi 30%. Namun saat ini BI masih tetap menerapkan komposisi itu. Menanggapi kenaikan suku bunga SBI, Direktur Ritel Bank Permata Irman A Zahiruddin menilai masih dalam batas wajar. ''Saat ini yang dilakukan perbankan adalah mengurangi besaran net interest margin (NIM),'' ujarnya. Kenaikan suku bunga SBI, menurut dia, berdampak pada kenaikan NIM dalam penempatan dana, tetapi tidak serta-merta disikapi oleh perbankan dengan menaikkan suku bunga pinjaman atau simpanan karena hal itu memerlukan kajian mendalam. ''Kalau NIM-nya sudah sedemikian tipis, maka kenaikan suku bunga kredit tak terhindarkan. Jadi kita masih melihat NIM-nya dulu,'' tegasnya. Namun yang pasti, asset reliability committee akan terus mengkaji perkembangan likuiditas yang dimiliki perbankan. (bn-27) |