logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 03 Mei 2005 SALA
Line

Keperkasaan Perempuan dalam Kreativitas Seni (2-Habis)

Antara Konotasi Buruk dan Eksistensi

Di Cina dahulu, hukuman bagi perempuan yang berani tampil di atas pentas sangat berat. Dengan gampang pemerintah menjatuhkan dakwaan, bahwa perempuan yang berani tampil di atas pentas harus berani pula menanggung risiko dianggap sebagai pelacur.

KALAU ada pertanyaan, mengapa dalam dunia tari seringkali muncul penari pria yang memerankan tokoh perempuan. Pernyataan Soedarsono dalam tulisannya yang berjudul "Didik Nini Thowok dan Perkembangan Seni Pertunjukan Cina 2005" itu, mungkin bisa menjadi salah satu jawabannya.

Kebetulan, dalam seminar dengan tema Perempuan dan Kreativitas Kekaryaan Tari di STSI baru-baru ini, pernyataan itu dikutip Dr Narawati MHum ketika memaparkan makalahnya berjudul Indrawati dan Irawati Dua Eksponen Koreografer Tari Sunda di Era Globalisasi.

Begitulah, larangan dan batasan yang menyertai kreativitas perempuan dalam panggung seni, terkadang memang memunculkan pertentangan biologis (pria memerankan perempuan). Dan itu tidak terjadi pada saat ini saja, namun juga jauh sebelum era sekarang.

Lihat saja pada sejarah kesenian tradisional. Misalnya ludruk di Indonesia, kabuki di Jepang, atau juga opera beijing di Cina. Pada jenis kesenian tradisional tersebut, adalah jamak ketika pria memerankan tokoh perempuan.

Menariknya, kata dia, justru dari larangan dan batasan itulah yang memunculkan sosok-sosok perkasa dalam dunia tersebut. Dia kemudian mencontohkan dengan munculnya Titim Fatimah, pesinden tersohor era 1960-an di Jawa Barat.

Lalu muncul pula Nyi Menggung Mardusari, gadis desa yang diboyong ke Istana Mangkunegaran Solo karena kamampuannya menjadi seniman serbabisa.

"Meski konotasi buruk hampir selalu menyertai, mereka mampu eksis dengan kesetiannya kepada dunia seni. Itulah, yang saya maksud tentang keperkasaan tersebut," tandasnya.

Namun, sampai pada paparan tersebut, kembali muncul pertanyaan yang menarik dari Wahyu Santosa Prabowo, salah seorang peserta.

Untuk Apa

Kalau sudah sedemikian eksis, lalu untuk apa eksistensi itu? Apakah untuk menyejajarkan dengan laki-laki?

Dr Sri Rocahana Widiastutiningrum, yang dalam seminar tersebut juga menjadi pembicara dengan makalah berjudul "Perempuan dan Kreativitas Tari", memberikan jawaban, pengertian "untuk apa" itu sangat bergantung kepada bagaimana cara menangkapnya.

"Taruhlah dengan apa yang terjadi di STSI Surakarta, yang akhir-akhir ini dianggap mengalami kemandekan. Padahal di sisi lain, banyak perempuan koreografer dari STSI yang begitu produktif. Bisa saja korelasi keduanya itu menjawab pengertian 'untuk apa' tersebut," paparnya.

Dia memandang, beberapa karya Irawati Kusumarasri, Sri Setyoasih, Dwi Maryani, dan Hadawiyah, yang dipandang cukup berbobot, rasanya bisa menangkal tentang anggapan kemandekan karya yang tengah terjadi di perguruan tinggi seni tersebut.

"Dalam konteks 'untuk apa', jelaslah bahwa eksistensi para koreografer perempuan tersebut bisa diperuntukkan menjawab pertanyaan itu. Apakah benar telah terjadi kemandekan, padahal selama ini muncul karya-karya baru dari para perempuan koreografer itu?" tanya dia tanpa mengharap jawaban.(Wisnu Kisawa-18ha)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA