logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 03 Mei 2005 PANTURA
Line

Kantor Kelurahan Simbangkulon Masih Disegel

KAJEN- Hingga kemarin penyegelan Kantor Kelurahan Simbangkulon, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan masih berlangsung. Akibatnya staf kelurahan terpaksa ngantor di Kantor Kecamatan Buaran.

Camat Buaran Drs M Basori Anwar kemarin mengatakan, karena staf kelurahan merupakan PNS maka mereka harus tetap bekerja meski kantornya disegel. "Mereka untuk sementara ngantor di kecamatan," ujarnya.

Staf kecamatan yang berstatus PNS, kata dia, ada enam orang termasuk lurah yang baru. Dua tenaga honorer yang bukan PNS diliburkan. Meski tetap ngantor, mereka tidak bisa melayani masyarakat yang ingin mengurus surat-surat. Sebab stempel kelurahan ada di kantor yang masih disegel.

Pihak kecamatan sudah melakukan langkah agar penyegelan bisa segera diakhiri. Langkah tersebut antara lain mendekati para tokoh masyarakat agar mereka bisa menjelaskan kepada masyarakat yang kontra terhadap penetapan lurah yang baru.

Pihak Muspika, menurut Basori, bisa saja melakukan pembukaan paksa terhadap kantor kelurahan. Namun itu bisa memicu konflik di tingkat horisontal. "Kami khawatir ketika kantor dibuka paksa malamnya akan dirusak massa," katanya.

Karena itu, langkah terbaik yang dilakukan adalah dengan pendekatan persuasif dan minta bantuan para tokoh masyarakat. Dia berharap masyarakat bisa memahami aturan pengangkatan lurah. Sebab pengangkatan lurah berbeda dari kepala desa yang memang melalui pemilihan di tingkat desa.

Tak Disosialisasikan

Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan Simbangkulon H Imronudin saat dimintai konfirmasi mengatakan, warga Simbangkulon memang kaget ketika mendengar lurah mereka diganti.

"Warga sebenarnya tahu aturannya, kepangkatan Pak Agus (lurah lama-Red) tidak memenuhi. Namun karena tidak ada sosialisasi dan warga telanjur senang dengan lurah lama, warga kecewa," ujarnya.

Begitu mendengar lurah diganti, pihaknya menggelar rapat yang dihadiri berbagai elemen di Kelurahan Simbangkulon. Dalam rapat tersebut berkembang tiga aspirasi, yaitu mempertahankan lurah lama, mengusulkan putra daerah, dan menyetujui lurah baru yang ditetapkan bupati. Namun kemudian disepakati pihaknya akan mengadakan lobi dengan bupati. "Namun tahu-tahu secara spontan warga menyegel kantor," ujarnya.

Penyegelan itu adalah spontanitas sebagai wujud trauma masyarakat. Sebelum dipimpin Agus Salim, warga sering kecewa dengan kepemimpinan lurah terdahulu. "Jadi sebenarnya warga kecewa karena tidak ada sosialisasi dan trauma jika nanti lurah yang baru tidak sebaik Pak Agus," ucapnya.

Meski begitu, dia mengaku jika penyegelan berlangsung lama, masyarakat yang akan rugi. Maka, dia berjanji secepatnya mengadakan rapat dengan berbagai elemen masyarakat agar permasalahan tersebut bisa segera diselesaikan.

"Selanjutnya setelah rapat kami akan berusaha menemui Bupati untuk menyampaikan aspirasi masayarakat," tegasnya.

Seperti diberitakan kemarin (2/5), akibat tidak puas dengan pergantian lurah, Kantor Kelurahan Simbangkulon disegel warga. Praktis, berbagai pelayanan di kelurahan tersebut terhenti.(G16-17s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA