| Selasa, 03 Mei 2005 | PANTURA |
Anggota DPRD dan Pejabat Pemkab Jadi Calo TanahPEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Batang secara resmi telah menetapkan tiga kecamatan baru sebagai hasil pemekaran, yaitu Kandeman, Banyuputih, dan Pecalungan. Indikasi yang muncul sekarang ini, ada sebagian masyarakat yang saling berebut agar wilayahnya dijadikan ibu kota kecamatan baru. Mereka saling mengklaim bahwa daerahnya lebih tepat jika dibandingkan dengan daerah lain. Namun, apabila dicermati yang lebih ramai lagi justru kemerabakan percaloan. Banyak makelar yang mendatangi desa-desa dengan dalih wilayahnya akan digunakan sebagai lokasi kecamatan baru. "Tragisnya, ada beberapa anggota DPRD Batang yang ikut terjun dalam praktik percaloan tanah untuk ibu kota kecamatan baru. Termasuk juga dari eksekutif yang tidak mau ketinggalan, ikut bergerilya menjadi calo," papar Wakil Ketua DPRD Batang Drs H M Sulton SQ, kemarin. Dia menyayangkan, ada anggota DPRD ataupun pejabat Pemkab yang justru hanyut dalam percaloan tanah itu. Seharusnya, mereka berpikir jauh ke depan untuk kepentingan masyarakat banyak. Sebagai bagian dari pemerintahan, justru yang dipikirkan itu bagaimana ke depan wilayah kecamatan baru itu dapat segera berkembang menyesuaikan dengan kecamatan lama. "Bukannya malah saling berebut kepentingan untuk mencari lokasi. Ini justru akan menyengsarakan rakyat. Mari kita berpikir yang jernih untuk kepentingan masyarakat Batang 10 tahun ke depan dan seterusnya," ungkap Ketua DPC PKB itu. Merangkul Dia menyarankan kepada eksekutif khususnya Bagian Pemerintahan untuk merangkul semua komponen masyarakat di wilayah kecamatan baru hasil pemekaran. Alangkah baiknya, jika mereka aktif dilibatkan dan diajak musyawarah menyangkut masa depan wilayah baru itu. Seperti di Banyuputih, ada forum masyarakat yang tergabung dalam Paguyuban Roban Bersama. "Demikian pula ibu kota Kecamatan Banyuputih, lokasinya tidak harus berada di tepi jalan raya pantura. Bisa dipilih lokasi yang agak ke dalam, agar tidak menambah keramaian jalur pantura," papar Gus Sulton, demikian dia biasa dipanggil. Dengan menarik lokasi ibu kota kecamatan ke dalam atau daerah tengah akan mempercepat perkembangan pembangunan di daerah sekitar. (Arif Suryoto-17j) |