logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 03 Mei 2005 WACANA
Line

tajuk rencana

''Money Talks'' dalam Kesuksesan Chelsea

- Pada musim kedua setelah membeli saham Chelsea, Roman Abramovich membawa klub ini mengulangi prestasi 50 tahun silam. Gelar juara Liga Inggris yang pernah didapat pada musim 1955 di era Peter Sillett cs, baru bisa terulang setengah abad kemudian, setelah raja minyak Rusia tersebut mengambil alih saham Ken Bates pada 2003. Bates sendiri sebelumnya mengambil alih kepemilikan tim yang berkandang di Stamford Bridge ini pada 1982 dari keluarga Mears, yang merupakan pendiri klub tersebut seabad silam. Di tangan Abramovich, ambisi menjadi juara ditempuh melalui ''hukum uang'', berkat kekayaan berlimpah seiring dengan keterbukaan peluang bisnis yang diberikan negerinya. Dana hampir Rp 4 triliun dikeluarkan ''The Roman Emperor'' untuk mendatangkan para maestro sepak bola.

- Tak hanya para pemain hebat yang dibawa untuk mengangkat pamor the Blues. Jagoan manajemen bisnis sepak bola, Peter Kenyon diminta meninggalkan Old Trafford, markas Manchester United. Langkah itu menambah sensasi Abramovich. Tetapi sensasi terbesarnya adalah mendatangkan para pemain muda potensial maupun bintang-bintang yang sudah bersinar. Setelah Claudio Ranieri gagal mempersembahkan gelar pada musim lalu, Abramovich membidik pelatih baru. Dengan buku cek yang seakan-akan bisa diisi sesuka hati, Jose Mourinho yang berhasil mengantarkan FC Porto menjuarai Liga Champios, direkrutnya. Kedatangan pelatih asal Portugal itu menjadi sebuah drama tersendiri, karena Svenn-Goran Eriksson sempat diisukan bakal menangani Frank Lampard cs.

- Dengan money talks, Chelsea memetik buahnya tahun ini. Cukup satu musim saja, kumpulan pemain mahal itu mengakhiri kompetisi tanpa gelar. Diawali keberhasilan menjuarai Piala Liga, tahun ini mereka merayakan pesta seabad usia klub dengan trofi dari Carling, sponsor Divisi Utama Liga Inggris. Kemungkinan tambahan trofi tetap terbayang, mengingat jalan untuk menjadi kampiun Eropa seperti dicita-citakan Abramovich, masih terbuka. Rabu dinihari WIB nanti, kandang Liverpool, Anfield Road, bakal menjadi tempat penentuan apakah Mourinho mampu mengulang prestasi di Porto atau tidak. Namun, andai mereka mampu mengungguli Liverpool untuk melangkah ke final Liga Champions, bahkan nantinya muncul sebagai juara, tetap saja mereka masih punya ''PR'' untuk sepak bola.

- Sejauh ini, ''Chelski'' baru hebat dalam tataran statistik, seperti jauhnya selisih poin mereka dengan para pesaing di Liga Inggris. Tetapi, itu ternyata hanya ''menggambarkan'' perbedaan mereka dalam anggaran belanja pemain dan pelatih yang telah dikeluarkan. Belum pada kemampuan menghadirkan sebuah ''irama baru'' bagi blantika sepak bola internasional, agar sepadan dengan jutaan poundsterling yang telah dibelanjakan. Mereka belum memunculkan citra adanya pengoptimalan sistematis dari potensi-potensi besar pada aspek teknis yang dimiliki. Atau, katakanlah semacam ''karakter Chelsea'' yang membedakan dengan irama klub-klub lain. Ketika ditangani Claudio Ranieri, klub ini justru ''menenggelamkan'' kualitas individu Adrian Mutu, Hernan Crespo, maupun Juan Sebastian Veron.

- Barangkali Ranieri sendiri sebenarnya tak berinisiatif memiliki deretan bintang sebanyak itu, yang malah membuat dirinya bingung merancang skema permainan. Di tangan Mourinho, gelar memang telah berhasil dipersembahkan. Namun tetap saja ''irama'' perspektif sepak bola kolektif mereka tak ''semerdu'' Barcelona yang makin sedap dinikmati ketika ''vokalis'' utama Ronaldinho mendapatkan kesempatan memainkan ''nada-nada tinggi''. Selain harus mengakui daya pikat sexy football gaya Barcelona, mereka harus pula berkaca pada racikan Arsene Wenger di Arsenal yang memberi peran pada vitalitas Patrick Viera dan Thierry Henry. Tim-tim seperti Real Madrid dan Manchester United juga tetap punya segmen permainan yang seakan-akan merupakan sekat tebal yang susah ditembus Chelsea.

- Uang memang tak bisa dalam sekejap membeli segalanya. Apalagi, gaya Abramovich dalam merekrut pemain menyerupai aksi rolet Rusia. Dia seperti berjudi, dengan memosisikan pemain yang dibelinya ada dalam posisi ''hidup'' atau ''mati''. Mateja Kezman dan William Gallas rupanya tak ingin meniru apa yang telah menimpa Crespo, Veron dan Mutu pada musim kompetisi lalu. Keduanya telah mengisyaratkan untuk siap pindah ke tim lain musim mendatang. Mungkin saja keduanya telah mencium gelagat sang pemilik untuk meneruskan kebiasaannya mengoleksi bintang. Itu baru salah satu kerawanan ketika ''hukum uang'' lebih banyak berbicara. Namun, dalam konteks ini Chelsea jelas lebih beruntung dibanding Inter Milan yang pernah menggunakan metode serupa dalam perekrutan pemain.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA