logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 03 Mei 2005 NASIONAL
Line

Memburu Perampok (1)

Pelaku Lama yang Ingin Kembali Diawasi

Selama empat bulan terakhir, kasus perampokan bisa disebut paling menonjol di kota Solo dan sekitarnya. Tercatat, sejak Januari-April, 16 kasus terjadi di wilayah kota yang dikenal tak pernah tidur itu. Kondisi tersebut tentu sangat merisaukan warga. Sebab jaminan keamanan terhadap aktivitas keseharian mereka juga terancam. Menyikapi hal tersebut Kapolwil Surakarta Kombes Drs Abdul Madjid SH MH melancarkan gebrakan dengan menggelar beragam operasi untuk meminimalisasi gerak para pelaku pencurian dengan kekerasan itu. Lalu, siapa saja pelaku kejahatan yang kini menjadi incaran petugas. Berikut laporan Sri Hartanto dan Budi Santoso.

BEGITU anak buahnya berhasil menangkap sembilan perampok di rumah Boniman, warga Trucuk, Klaten, belum lama ini, Kapolwil Kombes Drs Abdul Madjid SH MH kembali menegaskan komitmennya terhadap para penjahat kambuhan. Bahkan, dia telah membulatkan tekad untuk mengambil tindakan tegas terhadap mantan-mantan penjahat yang berkeinginan kembali ke ''dunia'' lamanya itu. ''Jangan coba-coba lagi, sebab nyawa taruhannya,'' tandasnya.

Mengapa dia menaruh perhatian khusus terhadap para pemain kawakan itu. Sikapnya itu tentu dapat dimengerti, sebab dua di antara sembilan pelaku yang ditangkap jajaran Polres Klaten dalam operasi subuh tersebut ternyata residivis yang lama menjadi target penangkapan. Keduanya adalah Juwandi (45) warga Tegalrejo, Masaran, Sragen dan Sarno (55) warga Krapyak, Merbung, Klaten. Mereka akhirnya tewas karena mencoba kabur saat akan ditangkap. Sementara tujuh orang anak buahnya ditahan di Mapolres Klaten, yakni Wagiman (35) warga Jakrah Karanganyar, Darno (50) warga Sumberejo, Karanganyar, dan Yuwono Heri Purwanto (27) warga Sidomulyo, Ampel Boyolali. Empat tersangka lainnya dari Yogyakarta yaitu Agus Nuryanto (21), Supriyanto (25), Siswanto (53) dan Setiawan (44).

Kesamaan

Tengara kembalinya para pelaku lama ke jagad kriminal memang ada benarnya. Tengok saja, kiprah ''bos'' perampok Embing (32) warga Surabaya yang pernah tinggal di kampung Bumi, Laweyan Solo dan Sugiyanto (52) alias Pak Dhe warga Cilacap. Kedua adalah residivis serta menjadi pimpinan bagi kelompoknya. Terhadap kelompok Sugiyanto, mungkin aparat bisa lega, sebab sudah ditangkap aparat kepolisian. Akan tetapi tidak demikian dengan Embing, pemilik nama asli Pompi Surandimansyah itu. Bapak dua anak itu kini bersatus buron setelah sempat menjalani masa hukumannya di Rutan Surakarta. Bila dicermati, kedua pentolan perampok itu memiki sejumlah kesamaan. Artinya mereka berdua secara sadar melibatkan anggota keluarganya dalam dunia kejahatan. Pak Dhe, yang selalu berpenampilan trendi itu selalu mengajak anak perempuannya, Ita (36). Sedangkan Embing, lebih memilih mengajak bapaknya Ebes (57) serta adik lelakinya Dodot (28), yang kini sedang menjalani proses pemeriksaan di Polsek Trenggilis, Surabaya karena terlibat perampokan.

Meski sama-sama menjadikan nasabah bank sebagai calon sasaran, namun dalam menjalankan aksinya mereka memiliki ciri berbeda. Kelompok Pak Dhe selalu mengunakan senjata api, serta mencubles mobil yang dikendarai korban. Mereka selalu mengikuti calon sasarannya hingga sampai di tempat yang telah ditentukan. Di wilayah Surakarta mereka beraksi di dua tempat. Salah satunya di daerah Sine Sragen dengan korban Giyamti (38), pengusaha. Dalam kejadian tersebut korban menderita kerugian Rp 134.000.000. Sedangkan aksi pada berikutnya menimpa keluarga H Ahmad Zaini warga Masaran Sragen dengan jumlah kerugian 150.000.000.

Untuk kelompok Embing selalu mencegat calon korban di tengah jalan. Hanya saja kelompok tersebut tidak sampai mencubles ban mobil korbannya. (46)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA