logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 03 Mei 2005 NASIONAL
Line

Demo Libatkan Anak Langgar Undang-undang

SEMARANG-Pelibatan anak dalam kegiatan politik, termasuk unjuk rasa dan kampanye, merupakan bentuk eksploitasi. Hal itu menyalahi UU No 23/2002 tentang Perlindungan Anak. Demikian pendapat Koordinator Jaringan Peduli Perempuan dan Anak (JPPA) Jateng Dr Agnes Widanti SH CN saat menyoroti demonstrasi yang diikuti puluhan siswa Minggu (1/5) lalu.

''Anak-anak cuma dimanfaatkan sebagai bemper kegiatan politik orang dewasa. Sebenarnya semua tindakan politik yang membahayakan anak-anak dilarang UU Perlindungan Anak,'' tuturnya.

Seperti diberitakan Suara Merdeka kemarin, aksi demonstrasi dalam rangka peringatan Hari Buruh Sedunia diwarnai keterlibatan anak-anak. Puluhan anak dari sekolah dasar rakyat (SDR) dari berbagai kawasan pinggiran Semarang turut berdemonstrasi di kompleks Taman Menteri Supeno (Taman KB). Anak-anak yang berada dalam pendampingan Liga Mahasiswa Nasional Demokratik (LMND) itu aktif menyuarakan tuntutan tentang pembukaan lapangan kerja, penyelenggaraan pendidikan murah, serta penolakan privatisasi BUMN dan buruh kontrak.

Alasan yang dikemukakan LMND sebagai penggerak demo itu, anak-anak perlu mengetahui persoalan di sekelilingnya. ''Mereka adalah anak-anak buruh yang kena PHK. Jadi sewajarnya sejak dini diajak mengenal dan memahami persoalan-persoalan masyarakat pinggiran yang melingkupinya,'' ujar Lalu Hilma Apriyandi, koordinator lapangan.

Agnes Widanti menganggap keterlibatan anak dalam aksi di jalan raya membahayakan keselamatan mereka. Anak-anak rentan kecelakaan dan bisa mengalami gangguan kesehatan, terutama pernapasan akibat polusi. Di samping itu, pelibatan anak dalam kegiatan politik akan berdampak pada kejiwaan anak yang bersangkutan, karena belum saatnya mereka mendengar kata-kata kasar, saling adu argumentasi.

Pendapat senada disampaikan psikolog anak dari Unika Soegijapranata Dr Endang Widyorini. Dia berpendapat, pelibatan anak-anak di bawah umur dalam aksi demonstrasi merupakan satu bentuk eksploitasi. Di satu sisi memang ada nilai positif, anak-anak tahu persoalan yang terjadi di sekelilingnya.

''Tapi pada saat yang sama, itu mendidik mereka untuk menempuh jalan pintas untuk mengatasi persoalannya. Bisa jadi, kalau sudah dewasa nanti, sedikit-sedikit mereka akan demo,'' ujar dia.

Menurut Endang, anak-anak memang perlu memahami situasi sosial di sekelilingnya. Hal itu bisa disampaikan sesuai dengan perkembangan daya pikir dan daya nalar anak-anak. Namun, tandasnya, pemahaman sosial itu tidak perlu disampaikan lewat pelibatan dalam aksi demonstrasi. (amp,H7-41t)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA