logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 03 Mei 2005 NASIONAL
Line

Dukuhseti Tak Lagi seperti Dulu

Gerakan Moral Hapus Konotasi Miring


SM/Prayitno KERJA KERAS:Perempuan di Desa Dukuhseti, Kecamatan Dukuhseti, Pati, pun memiliki semangat keras dalam bekerja. Mereka turut bekerja mencetak genteng dan batu bata.(30t)

SAMPAI sekarang Desa Dukuhseti, Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati masih menjadi bahan pergunjingan, khususnya bagi lelaki yang suka berpetualang dalam soal seks. Kampung di pinggiran pantai yang terletak sekitar 40 km barat laut Kota Pati itu pun terkenal di kalangan pria yang hobi ''pelesiran'' di mana-mana.

Kondisi desa tersebut sebenarnya tak beda dari daerah di sekitar lereng utara Pegunungan Muria. Selain terdapat pantai, juga terdapat sedikit lahan sawah tadah hujan, kebun, dan hutan. Sebagian lain penduduknya bekerja di sektor jasa, produksi genteng, dan sebagian kecil membuka usaha mebel kayu. Pohon kelapa yang banyak menghasilkan kelapa kopyor, yang lezat untuk dibuat minuman dengan es batu atau didinginkan, juga masih banyak tumbuh. Hampir semua halaman atau pekarangan rumah penduduk terdapat pohon kelapa, yang dapat dipastikan sebagian buahnya dalam kondisi kopyor.

''Warga masyarakat memang mendapatkan tambahan penghasilan yang lumayan dari kelapa kopyor. Bila harganya sedang bagus, per butir bisa laku Rp 7.500,'' tutur Ketua Badan Perwakilan Desa (BPD), Multazam. Namun, sudah beberapa bulan ini produksi kelapa kopyor turun drastis, karena pangkal daun muda pohon itu diserang hama kwangwung.

Secara umum, tidak ada perubahan mencolok atas bangunan/fasilitas umum, atau rumah penduduk di Dukuhseti maupun sejumlah desa tetangganya. Rupanya, hanya keberadaan Pondok Pesantren AKN Marzuqi, yang diasuh KH Ahmad Khoirun Nasihin Marzuqi, yang tergolong ''baru'' bagi desa itu.

Ponpes bersangkutan, meski letaknya (di Dukuh Selempung) cukup jauh dari jalan utama Dukuhseti, bagai medan magnet. Menyedot perhatian pejabat, pengusaha, dan tokoh politik, terutama semenjak SBY naik ke kursi presiden. Perubahan bangunan fisik dan fasilitas penunjang pendidikan di ponpes ini pun bagai meteor, berlangsung cepat.

Fenomena tersebut bagai dua kutup yang berbeda, bila dibandingkan dengan ''bau'' tak sedap yang dialamatkan terhadap Dukuhseti beberapa tahun lalu. Ketika itu, tersiar kabar, tak sedikit perempuan (dan sebagian masih memiliki suami) yang mau diajak kencan di kampung itu juga.

Karenanya, dari mulut ke mulut, pada akhirnya tak sedikit lelaki yang suka iseng sengaja datang dan berburu akan kebenaran kabar tersebut. Sehingga, di perkampungan tersebut sering terlihat kendaraan ''asing'' yang keluar masuk jalan atau gang yang ada. Mereka mencari sisik-melik informasi yang sampai di telinganya.

''Itu dulu. Tapi, sekarang, alhamdulillah hal-hal yang buruk tersebut sudah hilang. Tidak ada lagi,'' kata Kusbianto (65), warga asli desa itu yang mantan karyawan Puskesmas. Menurutnya, karena citra buruk tersebut, dulu sampai-sampai wanita warga Dukuhseti bila berkenalan dengan orang luar desa tidak mengaku kalau beralamat di Dukuhseti.

Berkat Kesadaran

''Tidak hanya wanita. Para lelaki pun juga jadi sungkan. Saya sendiri misalnya, kalau kenalan dengan orang luar desa, pasti dilihat secara negatif bila tahu saya dari Dukuhseti,'' aku Ketua BPD, Multazam (38).

Namun sekarang, tandasnya, warga masyarakat merasa sudah tidak sungkan-sungkan lagi untuk berterus terang sebagai penduduk Dukuhseti. ''Mungkin, kalau yang sembunyi-sembunyi, di mana pun tentu ada. Tetapi, sekarang di sini memang tidak ada lagi sarang (rumah mucikari) atau geng yang menyediakan maupun sebagai penghubung perempuan yang bisa diajak kencan,'' urainya.

Ia menerangkan, perubahan cukup drastis atas praktik-praktik perdagangan seks yang membuat citra desa menjadi buruk, terjadi saat dilakukan gerakan oleh kaum muda yang dinamakan ''gerakan moralisasi'' pada 1990. Multazam, yang kala itu baru meninggalkan pondok pesantren dan memulai mengaplikasikan ilmunya di kampung halamannya, adalah salah satu dari puluhan pelaku gerakan tersebut.

''Gerakan yang dicetuskan oleh para tokoh dari NU dan tokoh warga lainnya dan sepengetahuan aparat keamanan ini memang terbukti tepat sasaran. Terutama tiap malam selama beberapa bulan, pemuda yang di antaranya adalah anggota Banser NU ronda di mulut-mulut gang desa,'' paparnya.

Seingatnya, setiap ada mobil ''asing'' yang masuk kampung akan ditanya keperluannya. ''Bila keperluannya tidak jelas, maka orang asing tersebut diminta agar kembali saja,'' kenangnya.

Gerakan yang cukup menghabiskan energi dan waktu itu akhirnya bergema ke mana-mana. Sehingga, mereka yang akan datang ke Dukuhseti dan berniat tidak baik dan telah mendengar ''operasi'' yang dilakukan pemuda desa, tidak jadi datang.

''Ketegangan dengan pihak-pihak germo akibat gerakan tersebut memang ada, tetapi tidak sampai ada bentrok secara fisik,'' tambahnya.

Kini, setelah bekas cap negatif tersebut pun berangsur lenyap, warga giat melakukan kegiatan keagamaan. ''Hampir tiap hari, ibu-ibu kelompok muslimat mengadakan pengajian, begitu pula kaum lelakinya. Jadi, yang ada di desa ini tidak hanya yang jelek saja, yang baik-baik pun juga banyak,'' ucapnya. (Prayitno-14v)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA