| Selasa, 03 Mei 2005 | KEDU & DIY |
Komite Mahasiswa Serukan Revolusi PendidikanWONOSOBO - Bersamaan dengan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Komite Mahasiswa Universitas Sains Alquran (Unsiq) Jateng melancarkan aksi di halaman gedung DPRD Wonosobo, Senin kemarin. Mereka diterima Ketua Komisi C DPRD Afif Nurhidayat SAg dan sejumlah anggota Komisi C. Di halaman gedung DPRD, aktivis mahasiswa Unsiq membentangkan spanduk dan poster yang menyoroti pendidikan, antara lain bertuliskan "Tolak kapitalisme pendidikan"; "Pendidikan murah untuk rakyat", dan "Indonesia tidak punya sistem yang jelas untuk pendidikan". Korlap aksi M Hadziq dalam orasinya menyerukan agar sekarang ini juga dilaksanakan revolusi pendidikan. Komite mahasiswa Unsiq juga menolak kapitalisme pendidikan. Laksanakan demokratisasi pendidikan, tolak intervensi asing di setiap kebijakan negara. Wujudkan pendidikan murah untuk rakyat, tingkatkan kesejahteraan guru, dan realisasikan 20% APBN untuk alokasi pendidikan. Pengunjuk rasa juga menuntut anggota DPRD ataupun eksekutif yang merupakan tulang punggung untuk bisa merumuskan kebijakan strategis di bidang pendidikan. Mereka juga minta keseriusan DPRD di bidang pendidikan. Komite mahasiswa menilai, subsidi pendidikan sampai sekarang belum dirasakan sepenuhnya oleh masyarakat. Pendidikan sekarang ini hanya mampu menciptakan pekerja saja, belum seperti yang diharapkan. Menanggapi hal itu, Ketua Komisi C, Afif Nurhidayat, menyebutkan, legislatif bersama eksekutif, dewan pendidikan, dan LSM sejak lama sudah secara intens membahas berbagai permasalahan pendidikan di daerah pegunungan ini. Komponen yang peduli pendidikan, lanjut Afif, dilibatkan sejak dari perencanaan, pelaksanaan, ataupun evaluasi tentang pendidikan. Dan, kritik para mahasiswa akan dijadikan masukan dan bahan pertimbangan. Di Yogyakarta Sementara itu, ratusan mahasiswa menggelar aksi memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), (2/5) kemarin. Berbagai elemen tersebut meminta pemerintah memberikan pendidikan murah serta gratis untuk rakyat. Selain itu ada pula salah satu elemen demonstran yang meminta pemerintah menghapus perjudian di Kota Pelajar. Massa dari Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI) dan Forum Komunikasi Mahasiswa dan Pelajar Yogyakarta (FKMPY) menyampaikan saat ini pendidikan formal telah membentuk manusia menjadi agen modal internasional. ''Proses pembodohan rakyat dan kaum terdidik harus segera dihentikan, rakyat harus berkaca pada perjuangan pemuda Soekarno yang mau menggalang kekuatan melawan kolonialisme dan imperialisme,'' tandas koordinator aksi, Adi Ruspriyanto AMd dalam orasinya di depan DPRD. Pada kesempatan itu pula Aliansi Buruh Yogyakarta (ABY) juga berunjuk rasa. Mereka menentang segala bentuk penindasan yang dilakukan oleh penguasa ataupun pemilik modal. (P55,D19-55jds) |