| Selasa, 03 Mei 2005 | EKONOMI |
BPR Estetika Artha Targetkan Kredit Rp 5 MSEMARANG- PT Bank Perkreditan Rakyat Estetika Artha Guna yang mulai beroperasi awal Mei ini, sepanjang 2005 menargetkan dapat menyalurkan kredit sebesar Rp 5 miliar. Target utama penyaluran kredit ini adalah sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah. "Karena masih baru berdiri target yang kami patok tidak muluk-muluk, namun angka Rp 5 miliar sudah cukup realistis," kata Direktur Utama Titik Sulistyawati, seusai peresmian BPR yang berlokasi di Jalan Kyai Saleh 1109, kemarin. Acara tersebut dihadiri oleh Koordinator bidang Bank Indonesia (BI) Semarang Khairil Anwar, dan pemegang saham utama Triningsih Afandi. Selain itu, hadir pula pengurus Perbarindo Komisariat Semarang Gatyt Sari Ch dan pengusaha BPR Rita Ermawati. Titik menambahkan, alasan membidik sektor usaha mikro ini dikarenakan pangsa pasarnya masih sangat luas. Meski demikian, dia mengakui, persaingan antar-BPR kini semakin ketat seiring dengan makin banyaknya lembaga keuangan semacam yang berdiri. "Tetapi, kami yakin masih banyak celah yang bisa digarap. Yang jelas, alasan kami berfokus ke UKM karena kinerjanya selama ini termasuk sangat bagus dibanding dengan usaha yang berskala besar," tandas Titik. Angka Kompetitif Mengenai bunga kredit, dia menambahkan pihaknya mematok angka yang kompetitif, yakni 2% per bulan. "Dalam proses penyaluran, kami juga tetap mempertimbangkan prinsip kehati-hatian untuk menghindari angka kredit macet yang besar," tandasnya. Selain penyaluran kredit, BPR Estetika Artha Guna juga menggenjot penghimpunan dana pihak ketiga melalui produk tabungan dan deposito. Hingga akhir 2005 perolehan dana masyarakat di BPR tersebut ditargetkan mencapai Rp 3 miliar. Mengenai linkage program atau kerja sama dengan bank umum, dia menyatakan, saat ini sudah ada beberapa bank menyatakan minatnya untuk bekerja sama. Namun, sejauh ini pihaknya belum menentukan dengan bank mana. "Linkage program sangat penting, sebab bank umum perlu kepanjangan tangan untuk mencapai segmen mikro. Tetapi, kami belum menentukan bank mana yang akan kami gandeng, sebab sudah ada beberapa tawaran," jelasnya. Koordinator Bidang BI Semarang Khairil Anwar menyatakan, dengan adanya pembukaan BPR baru di Semarang ini diharapkan semakin meningkatkan perekonomian, khususnya dari sektor usaha mikro. "Artinya, akan semakin banyak pengusaha kecil yang bisa mengakses kredit guna kebutuhan permodalan," jelasnya. Di wilayah Semarang sendiri, kata dia, hingga saat ini tercatat ada 600 BPR dan rata-rata memiliki kinerja yang bagus. "Satu hal yang perlu diperhatikan adalah adanya kemungkinan tindak pencucian uang di BPR. Oleh karena itu, pengelola perlu mewaspadainya," tegasnya. (G2-47) |