logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 03 Mei 2005 EKONOMI
Line

Inflasi April 0,34%, akibat Kenaikan Harga Barang dan Jasa

JAKARTA- Berdasarkan hasil pemantauan Badan Pusat Statistik (BPS) di 45 kota di Indonesia pada bulan April 2005 terjadi inflasi sebesar 0,34%, atau terjadi kenaikan indeks harga konsumen (IHK) dari 120,59 pada bulan Maret 2005 menjadi 121,00 pada bulan April 2005.

Demikian diuraikan Kepala BPS Choiril Maksum dalam keterangan pers awal bulan di Gedung BPS kemarin.

Diungkapkan, dari 45 kota IHK tercatat 32 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Banda Aceh yang mencapai 4,45%, sedangkan inflasi terendah di Serang/Cilegon ) yakni 0,3%. "Inflasi terbesar di Aceh karena harga-harga kebutuhan pokok serta pasokan meningkat tajam," katanya.

Ditambahkan, laju inflasi tahun kalender (Januari-April) 2005 sebesar 3,54%, sedangkan tingkat inflasi "year on year" (April 2005 terhadap April 2004) sebesar 8,12%.

"Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks pada kelompok-kelompok barang dan jasa," tuturnya sambil menyebutkan pada April 2005, kelompok komoditi yang memberikan andil/sumbangan inflasi antara lain kelompok makanan jadi, kesehatan, pendidikan, transportasi dan keuangan.

Sedangkan kelompok bahan makanan memberikan sumbangan deflasi sebesar 0,04%. Maksum menjelaskan secara kumulatif ekspor Januari - Maret 2005 mengalami peningkatan 31,39% dibanding periode yang sama tahun 2004. Indikatornya, pada bulan Maret 2005 ini, nilai ekspor Indonesia mencapai 7,25 miliar dolar AS atau lebih tinggi 13,63% dibanding ekspor Februari 2005 sebesar 6,3 miliar dolar AS. Sementara itu, ekspor nonmigas bulan Maret 2005 mencapai 5,48 miliar dolar AS atau naik 8,75% dibandingkan bulan sebelumnya.

"Sedangkan kumulatif Januari-Maret 2005 mengalami kenaikan sebesar 34,20 persen," tambahnya lagi.

Terungkap pula, bahwa peningkatan ekspor nonmigas terbesar terjadi pada lemak dan minyak hewan/nabati, yakni sebesar 146, 5 juta dolar AS. Sedangkan, penurunan terbesar terjadi pada bahan bakar mineral, khususnya batu bara sebesar 76,4 juta dolar AS. "Ekspor non migas terbesar ke Jepang, disusul AS dan Singapura dengan kontribusi ketiganya mencapai 43,34 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa (25 negara) sebesar 886,3 juta dolar AS," jelasnya.

Kelompok Perumahan

Sementara itu, imbas kenaikan tarif BBM awal Maret lalu ternyata masih memengaruhi inflasi hingga 0,07%. Nilai itu akibat andil kelompok perumahan yang cukup besar hingga 0,10%, sedangkan bahan makanan justru turun sampai minus 0,08%.

Meski demikian, inflasi bulan ini jauh lebih rendah dari bulan lalu yang tercatat 2,04%. Dibandingkan bulan yang sama tahun lalu yakni 0,36%, inflasi pada bulan April itu mencapai titik ter tinggi dalam satu tahun terakhir (SM, 5/4).

''Secara tidak langsung, kenaikan harga pada kelompok perumahan lebih banyak disebabkan oleh naiknya harga bahan baku (bahan bangunan-Red) dan biaya sewa tempat tinggal. Harga rumah pada real estate dihitung sebagai biaya sewa,'' ungkap Soesiono SSi, Kepala Seksi Statistik Harga Konsumen dan Harga Perdagangan Besar Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng, kemarin.

Meningkatnya harga perumahan itu dialami empat kota yang menjadi acuan perhitungan inflasi. Tiga kota meliputi Purwokerto 0,08%, Semarang 0,12%, dan Tegal 0,12% mengalami kenaikan cukup tinggi. Sedangkan Surakarta hanya naik sekitar 0,03%.

Selain perumahan, tiga kelompok lain yang mengalami kenaikan adalah bahan makanan jadi 0,02%, dan kelompok sandang, kesehatan, serta pendidikan masing-masing 0,01%.

''Tarif masuk objek wisata di Tegal cukup tinggi, sampai 0,04% sehingga turut memengaruhi inflasi di Jateng. Karena kenaikan tarif BBM, biaya sejumlah perangkat objek wisata yang memakai bahan bakar minyak harus menyesuaikan,'' jelas dia. (bn,rei-47)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA