logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 23 April 2005 PANTURA
Line

KSO Ini Diharapkan Beri Keuntungan kepada Warga

TEGAL - Kegiatan bongkar muat batu bara di Pelabuhan III Cabang Tegal dilaksanakan dengan kerja sama operasional (KSO) antara PT (Persero) Pelindo III Cabang Tegal dan PT Hidup Bobaraja Tegal. Usaha KSO ini diharapkan dapat memberikan efek ganda pada perekonomian masyarakat Kota Bahari dan sekitarnya.

Humas KSO PT (Persero) Pelindo III dan PT Hidup Bobaraja Atmo Suwito Rasban SE saat sosialisasi di Kantor Pelindo III Tegal mengatakan, pihaknya ingin menghidupkan kembali Pelabuhan Tegal yang pada abad XVIII menjadi pelabuhan yang menyandang gelar Haven Zukker (pelabuhan gula). Keramaian dan aktivitas tersebut akan berjalan kembali dengan masuknya tongkang pengangkut batu bara ke pelabuhan itu.

"Pada pemerintahan waktu itu, negara kita melalui Pelabuhan Tegal sudah bisa mengekspor gula ke negeri Belanda dan negara-negara Eropa lainnya. Sampai saat ini tanda-tandanya dapat dijadikan saksi hidup," tukasnya.

Menurut dia, untuk memberikan pemahaman seputar kegiatan yang akan dilakukan di pelabuhan, pihaknya belum lama ini telah mengajak sejumlah warga (sekitar pelabuhan), LSM, dan wartawan mengunjungi Pelabuhan Cirebon yang lebih dulu melakukan bongkar muat batu bara. Yakni, untuk mengetahui sejauh mana pengaruh kegiatan bongkar muat terhadap lingkungan, termasuk efek samping pada perekonomian masyarakat sekitar.

Murodi Abdul Rosyid, warga Jl Bali yang mengikuti studi banding ke Pelabuhan Cirebon mengatakan, pihaknya tidak menanyakan kepada warga seputar pelabuhan tentang pengaruh kegiatan bongkar muat batu bara.

"Apakah mereka kena penyakit atau tidak akibat bongkar muat batu bara, saya tidak tanyakan. Namun yang jelas, warga merasakan pendapatan mereka meningkat setelah ada kegiatan bongkar muat," paparnya.

Jalan Tembus

Pada bagian lain, Murodi atas nama warga Jl Bali justru meminta angkutan batu bara dari pelabuhan ke luar sebaiknya tidak melewati perkampungan Jl Bali, jika perlu membuat jalan tembus sendiri sehingga tidak mengganggu aktivitas warga.

Namun, Manajer PT (Persero) Pelindo III Sadiyanto justru mengatakan tetap akan melewati jalan tersebut karena di sekitar lokasi yang ditunjuk untuk jalan tembus akan dipergunakan untuk bangunan SPBU.

Hal yang sama juga disampaikan Toyib, wakil nelayan. Dia mengatakan, masuknya tongkang babu bara harus dipikirkan pengaruhnya terhadap nelayan setempat. Baik lalu lintas tongkang maupun dampak dari ceceran batu bara yang masuk ke laut. "Apakah ini tidak berbahaya bagi kehidupan ikan," paparnya.

Berkaitan dengan pengaruh terhadap lingkungan, Sadiyanto mengatakan, pengelola kegiatan sudah memikirkan upaya untuk membuat peralatan yang mampu mengurangi debu dengan alat semprot yang baik.

Bahkan, kata Humas KSO Atmo Suwito Rasban, lalu lintas truk yang melewati perkampungan akan aman karena batu bara ditutup dengan terpal rapat.

Sesuai dengan rencana, dalam sehari akan didistribusikan 5.000 ton atau setara dengan 700-800 truk yang dibutuhkan untuk mengangkut dari pelabuhan ke perusahaan-perusahaan yang membutuhkan batu bara yang terletak di wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta. "Yang dilakukan PT Pelindo III dan mitra usahanya itu sekadar memindahkan batu baru dari kapal laut ke truk."

"Dalam proses pemindahan dari gudang penampung sementara ke truk ini ada spesifikasi teknis yang harus dipenuhi, yakni truk penampung batu bara harus tertutup (biasanya menggunakan terpal) sehingga kemungkinan terjadi polusi sudah bisa dicegah sedini mungkin," papar Atmo.

Mengenai areal yang digunakan sebagai gudang penampung batu bara (stock field), sepenuhnya milik PT Pelindo sehingga sama sekali tidak ada kaitannya dengan lahan milik warga sekitar. Karena itu, warga sekitar tak perlu khawatir atas kehadiran kegiatan bongkar muat barang karena tidak mengganggu lahan milik warga.

Dia juga menjelaskan, untuk sementara kapasitas bongkar masih berkisar 3.000 ton. Ke depan, diproyeksikan dapat mencapai 5.000-6.000 ton/hari. Yang jelas, kerja sama itu memberikan efek ganda ekonomi, antara lain berupa uang labuh, uang tongkang, uang dermaga, retribusi, dan penumpukan barang.

"Hadirnya kerja sama ini diperkirakan akan meningkatkan permintaan efektif masyarakat Kota Tegal, Kabupaten Tegal, Pemalang, Brebes, dan Pekalongan. Sebab, akan menyerap banyak tenaga kerja. Warung di sekitar pelabuhan juga hidup kembali, termasuk parkir dan hotel yang pada gilirannya secara signifikan akan lebih menggerakkan mesin pertumbuhan ekonomi pantura. (wh-74n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA