| Rabu, 20 April 2005 | SALA |
Gapura, Bukti Pesatnya Pembangunan KeratonTAK bisa dipungkiri, masa pemerintahan Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan (SISKS) Paku Buwono (PB) X antara tahun 1893-1939, adalah masa-masa puncak dari maraknya pembangunan fisik di Keraton Surakarta Hadiningrat. Tak percaya? Lihatlah, sekian banyak bukti yang sampai sekarang masih bisa disaksikan, sekaligus menjadi saksi bisu tentang sejarah tersebut. Antara lain gapura yang berdiri di berbagai tempat yang ada di wilayah Kota Solo. Sebut saja Gapura Gladag, Gapura Klewer, Gapurendra (Pasar Gading), Gapura Masjid Agung, Kori Brajanala Lor, Kori Brajanala Kidul (keduanya sering disebut sebagai lawang gapit), dan masih banyak lagi gapura-gapura yang lainnya. Dan, sedikit-banyak berbicara tentang pesatnya pembangunan fisik yang pernah terjadi pada saat keraton dipimpin Sinuhun PB X. Jika ingin lebih jelas lagi, seorang penulis sejarah bernama RM Sajid juga menjelaskan dalam bukunya yang berjudul Babad Solo. Buku tersebut banyak mengungkap sejarah pembangunan sejumlah gapura yang terjadi antara tahun 1893-1939. Jati Diri Dalam Babad Solo RM Sajid mengungkapkan, Gapura Gladag dibangun pada 1930. Gapura itu merupakan pisungsung dari orang Eropa yang tinggal di wilayah Keraton Surakarta. Sekaligus untuk kado wiyosan dalem yang genap berumur 64 tahun. "Dene pambikaipun gapura ing peken Gading nama Gapurendra, ing dinten Rebo kaping 22 juni 1938. (Adapun pembukaan gapura Gading bernama Gapurendra pada hari Rabu 22 Juni 1938)," tulisnya. Sementara itu, untuk peresmian Gapura Pasar Klewer dilakukan pada Rebo Pahing 8 Maret 1939 (17 Sura tahun 1870 Je). Sebelum itu, telah dibangun pula Gapura Masjid Agung yang kemudian diresmikan pada Selasa 25 Juni 1901 (6 Mulud tahun 1831 Dal). Kini, keberadaan gapura tersebut menjadi jati diri tempatnya. Misalnya Gapura Gladag, yang sekarang namanya juga untuk mengabadikan tempatnya. "Ing sajumenengipun-dalem Paku Buwono kaping X, ing salebeting karaton kathah dalem ingkang kabangun enggal utawi kamulyakaken," begitu RM Sajid menandaskan. (Wisnu Kisawa-17) |