| Rabu, 20 April 2005 | SALA |
Besok, Puncak Garebeg MuludALUN-ALUN LOR - Tiga daerah di Jatim, yaitu Madiun, Ngawi, dan Ponorogo terpaksa menunggu setahun karena mengurungkan niatnya untuk andil sekaligus ngalap berkah pada prosesi gunungan Garebeg Mulud, Kamis (21/4) besok. Tiga daerah yang berbatasan dengan Jateng itu kepancal (terlewatkan-Red) tidak bisa terlibat dalam puncak acara ritual Sekaten 2005 ini karena datang pada saat persiapan sudah terlalu dekat. "Kami sangat menghargai keinginan tiga Pemkab itu. Sayang, ketika keinginan itu diungkapkan, persiapan sudah final dan waktunya sangat mendesak kalau menyusul. Kesempatan yang akan datang masih terbuka luas," ungkap Pengageng Museum dan Pariwisata GPH Puger, kemarin. Meski kini tidak memungkinkan, kesempatan untuk andil dan ngalap berkah masih terbuka luas karena setiap tahun keraton menggelar ritual gunungan sampai tiga kali, yaitu Garebeg Besar sebagai peringatan Idul Adha, Garebeg Mulud (Maulid Nabi Muhammad SAW), dan Garebeg Syawal, atau peringatan 1 Syawal/Lebaran. Mengenai alasan tiga daerah itu karena kepancal waktunya, dia mengemukakan, untuk persiapan proses pembuatan tumpeng gunungan, ada hal-hal teknis yang memerlukan waktu cukup. Selain rancakan atau kerangkanya, pembuatan komponen gunungan terutama rengginan misalnya, perlu waktu lama untuk mencetak dan mengeringkannya. Sementara itu, kemarin pagi berlangsung jamasan meriam pusaka Nyai Setomi di Sitinggil Lor. Jamasan ini berbeda dari asumsi khalayak luas bahwa penyucian dan pemandian pusaka selalu diadakan setiap bulan Sura. Karena yang terjadi dengan Nyai Setomi, songsong Kiai Guwa Wijaya dan Brawijaya adalah jamasan yang setiap kali dilakukan saat hendak dan sesudah digunakan raja untuk upacara adat, misalnya pisowanan Garebeg Mulud atau Sekaten 2005 ini. Seperti biasanya, ritual menjamas pusaka, kelambu sekaligus krobongan kandang meriam di Bangsal Witana ini tidak banyak dikunjungi orang tetapi selalu dihiasi antrean jerigen, botol kemasan, dan wadah lain untuk ngalab berkah air bekas jamasan. Apalagi, ritual ini didahului dengan doa wilujengan lengkap dengan sesaji pepak ageng yang dipimpin RT Pudjodipuro. (won-17hj) |