logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 20 April 2005 PANTURA
Line

Industri Pengasapan Ikan Butuh Perhatian

TEGAL- Industri pengasapan ikan di Kelurahan Tegalsari, Kota Tegal, kini membutuhkan perhatian dari pemerintah kota (Pemkot). Masalahnya, mereka masih menggunakan peralatan tradisional sehingga kalah bersaing dengan industri besar.

Beberapa perajin kemarin mengaku kesulitan permodalan untuk memenuhi kebutuhan peralatan industri. Karena itu, mereka berharap pemerintah ikut membantu masalah permodalan, khususnya untuk pembelian mesin pengawet ikan. Mesin tersebut berfungsi untuk memanggang ikan, yang biasanya dilakukan dengan alat sederhana.

Ketua Kelompok Pengusaha Kecil Pengasapan Kelurahan Tegalsari, Wartini (48), kemarin menuturkan, pengasapan ikan yang ditekuninya sejak 25 tahun lalu tidak dapat menjadi andalan untuk pemenuhan kebutuhan keluarganya. Hal tersebut dikarenakan ketidaktetapan kegiatan pengasapan, akibat tidak tetapnya ikan yang diperoleh dari nelayan. Bahkan karena hasil tangkapan nelayan sedikit, menjadikan mahalnya harga ikan.

Seperti akhir-akhir ini terjadi, harga ikan yang biasa diasap yakni ikan tongkol dalam keadaan normal seharga Rp 4.000/kg. Namun ketika jumlah ikan sedikit, harganya melambung menjadi Rp 6.000. Jenis ikan lain seperti ikan kacangan yang harganya semula Rp 3.500 menjadi Rp 6.000/kg. Satu ikan tongkol besar berat satu kilogram, oleh perajin setelah dipotong-potong menjadi 13 potong. Satu ikan kacangan menjadi 11 potong.

''Setelah melalui proses pengasapan, kami menjual dengan harga Rp 300 hingga Rp 500 per potong. Tetapi sekarang saya jual rata-rata Rp 300 per potong, karena sepi pembeli,'' kata Wartini.

Rp 20.000/Hari

Dalam usaha pengasapan ikan itu, perempuan dua anak tersebut mempekerjakan tiga buruh untuk membantu memproses dan memasak ikan. Setiap hari seorang pekerja memperoleh imbalan Rp 20.000/hari untuk tenaga pengasapan, dan dua lainnya sebagai tenaga pemotong ikan dengan upah Rp 10.000/hari/orang. Meski demikian, para pengusaha mengaku sering rugi. Hal itu disebabkan ikan yang telanjur diasap tidak dapat bertahan lama. Umur ikan yang diasap hanya dua hari. Mereka berharap uluran tangan Pemkot dalam pengadaan peralatan atau teknologi yang dapat mengawetkan produk ikan asap.

Para perajin megakui, belum lama ini mereka mendapatkan bantuan dari Cofish, sebuah LSM yang bergerak di kalangan nelayan. Yakni, berupa pinjaman berbunga lunak 1,5% per bulan, dan pengembalian dapat diangsur hingga 20 bulan. Selain itu, lembaga tersebut memberikan bantuan berupa empat unit alat pengasapan. Alat tersebut secara bertahap akan diberikan lagi pada para perajin.

Namun mereka tetap memerlukan bantuan peralatan yang memadai, khususnya untuk pengawetan ikan asapan.(lei-14s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA