| Rabu, 20 April 2005 | NASIONAL |
Dianggarkan Rp 800 Juta untuk Hujan BuatanSEMARANG-Menjelang musim kemarau tahun ini, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng menganggarkan dana sekitar Rp 800 juta untuk hujan buatan. Anggaran tersebut dibebankan pada anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) tahun 2005. Persiapan dan usulan antisipasi kekeringan, bahkan sudah diusulkan pada 2004. Sementara itu, pemerintah pusat diperkirakan akan memberikan dana yang lebih besar untuk mengantisipasi kekeringan di wilayah Jateng. Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Jateng Ir Nidhom Azhari Dipl H mengungkapkan, hujan buatan sudah dilakukan di sekitar Wonogiri dan Boyolali. Hujan buatan sudah dilaksanakan sejak 26 Maret lalu. Teknologi pemecahan awan yang berisi uap air itu berhasil menambah volume waduk Gajahmungkur di Wonogiri. ''Ketersediaan air waduk-waduk masih mencukupi, kecuali Waduk Kedungombo yang belum terisi sesuai dengan perencanaan,'' katanya, Selasa (19/4). Selain karena pasokan air dari hujan buatan masih kurang, sedimentasi Waduk Kedungombo sangat tinggi. Sedimentasi tertinggi, kata Nidhom, terjadi di bagian outlet waduk. Lumpur sedimen sangat tebal sehingga menekan pintu waduk. Akibatnya, pintu waduk sulit dibuka. Gaya tekan sedimen pada pintu cukup berbahaya. Karena itu, Dinas PSDA baru-baru ini mengeruk sedimen Waduk Kedungombo, agar pintu dapat dibuka. Namun pengerukan tidak dapat dilakukan pada seluruh luasan waduk, karena volume total sedimen terlalu besar. Lebih lanjut Nidhom mengungkapkan, salah satu upaya mengurangi sedimentasi adalah melakukan konservasi di sepanjang daerah aliran sungai. Jika daerah aliran sungai baik, maka erosi dapat dikendalikan. Apabila erosi terkurangi, maka sedimentasi pun akan berkurang. Sesuai dengan perkiraan Badan Meteorologi dan Geo-fisika Jateng, terdapat beberapa wilayah yang rawan kekeringan, seperti Wonogiri, Rembang, dan Blora. Menurut Nidhom, musim kemarau di daerah tersebut datang lebih awal, dan relatif lebih panjang dibandingkan dengan daerah lain. Dinas PSDA menyarankan petani di daerah-daerah tersebut untuk tidak menanam tanaman yang membutuhkan pasokan air cukup banyak. Petani disarankan menanam tanaman sejenis palkawija yang tidak membutuhkan banyak air. ''Menanam tanaman yang membutuhkan banyak air pada musim kemarau berisiko puso. Karena itu, sebaiknya menanam palawija saja,'' ungkapnya. (H5-69t) |