| Rabu, 20 April 2005 | NASIONAL |
Peringatan 50 Tahun KAAPaul Sempat Minta Tanda Tangan NasserPAUL TEDJA SURYA, fotografer dan satu-satunya saksi hidup dari kalangan pers dalam KAA 1955, belum mau terlalu membandingkan nuansa yang berkembang antara Konferensi Asia Afrika 1955 dan Peringatan 50 Tahun KAA, yang ingar-bingarnya tentu bakal lebih ramai. Maklum, dulu hanya diikuti 29 negara kini mencapai 105 negara di dua benua itu. Hanya dia mempunyai keinginan untuk dapat merasakan langsung nuansa prosesi acara itu yang bakal digelar di Bandung, Minggu (24/4). Dengan harapan dapat hadir langsung di antara ruangan dalam Gedung Merdeka. Apakah dengan peran yang sama? Rasanya berbeda sedikit. Toh sampai saat ini dia tidak bisa dilepaskan dengan aktivitas, yang membuat namanya lengket dengan nuansa KAA 1955. Dalam usia 25 tahun, Paul menjadi saksi bagaimana tokoh-tokoh Asia Afrika berjuang untuk kebangkitan bangsanya. Dia hadir di sana sebagai pengabdi momen atau fotografer. Saat itu dia merupakan freelancer yang salah satunya memasok gambar bagi perusahaan jawatan penerangan provinsi, tempat mertuanya berkerja. Adanya KAA 1995 membuatnya sibuk pula melayani permintaan atas rekaman kejadian itu dari kantor-kantor berita. Dengan kamera Leica 3F seberat 1,5 kg dan aksesoris blitz bagi foto ruangan seberat 8 kg, dia dengan setia dan tekun mengabadikan tokoh-tokoh seperti Nehru, Nasser, Soekarno, atau Sihanouk. Bagaimana dia harus menekan perasaannya setelah memotret drama bersejarah itu. Berbeda dari zaman sekarang, ketika hasil foto langsung bisa dilihat seperti halnya teknologi digital, dulu dia harus bisa mengendalikan gejolak atas pertanyaan ìjadi atau tidaknyaî momen yang dia bidik sebelumnya. Sebelumnya dia pun harus mencocokkan feeling atas pencahayaan yang terjadi pada saat itu. Belum lagi badannya harus maju-mundur untuk mengambil angle yang bagus, karena dulu tidak ada fasilitas lensa zoom atau tele. Itulah mekanisme kamera zaman dulu. "Semuanya akan plong, kalau dalam proses di kamar gelap yang kita lakukan sendiri, gambar itu muncul," kata pria kelahiran 19 Agustus 1930 itu. Tapi hasil bidikannya atas peristiwa bersejarah itu ternyata menghasilkan sekitar 200-an gambar. Menjelang Peringatan 50 Tahun KAA, foto-foto hasil karyanya ikut meramaikan, contohnya yang dipajang di Ruang Media Center. Gambar-gambar itu salah satunya membuat orang berkesimpulan bahwa KAA yang lalu itu begitu dekat dengan masyarakat. Karena pada saat itu akses terhadap KAA mudah. Tapi apa yang dialami Paul pada saat itu setidak-tidaknya memberikan makna beragam. "Saat itu, saya masih dapat mendekati orang-orang nomor satu itu, bahkan meminta tanda tangannya, salah satunya adalah Presiden Mesir Nasser," katanya. (Setiady Dwie-78t) |