| Rabu, 20 April 2005 | NASIONAL |
Membuka Tabir Hipnoterapi (1)Menepis Aroma Mistis dari Wajah Hipnosis
Hipnoterapi merupakan salah satu cabang hipnosis yang dimanfaatkan untuk kepentingan pengobatan. Metode terapi dengan hipnosis-orang acap salah kaprah menyebut hipnotis- kembali naik daun, pascakemunculan Romy Rafael lewat acara ''Hipnotis'' di salah satu televisi swasta. Apa sebenarnya hipnosis dan hipnoterapi itu? Bagaimana perkembangannya di Indonesia? Wartawan Suara Merdeka Achiar M Permana yang baru saja mengikuti seminar tentang hipnoterapi menuliskan laporannya secara berseri, mulai hari ini. ADEGAN yang diperagakan Masruri tak berbeda jauh dari yang sering dilakukan Romy Rafael-pembawa acara ''Hipnotis''-di layar televisi. Praktisi hipnosis asal Sirahan, Cluwak, Pati, itu sedang menyugesti seorang suyet (objek hipnosis). Dari jarak sekitar tiga meter, penulis puluhan buku tentang hipnosis itu mulai melancarkan sugestinya. ''Coba lihat telapak tangan saya. Dalam hitungan ketiga, Anda akan segera tertidur. Satu, dua, tiga,'' ujar dia dalam seminar tentang hipnoterapi di Kawedhar Room Hotel Santika, Minggu (17/4). Sang suyet menurut. Cuma dalam tiga hitungan, pria 30-an tahun itu pun lelap. Lantas, Masruri pun dengan leluasa memerintah lelaki itu. Lihatlah, dia bisa menyuruh suyet untuk memelantingkan tubuh ke depan dan ke belakang. Suyet lain ditusuk tangannya, tanpa menampakkan ekspresi kesakitan. Wajah mereka sekaku patung lilin koleksi Madame Tussaud, museum patung lilin paling terkenal di dunia. Pada kali lain, Masruri menyuruh seorang ibu yang menjadi suyet, untuk naik sepeda. Dan, ibu separuh baya itu sungguh-sungguh melakukannya. ''Ini contoh stage hypnosis, hipnosis panggung. Untuk keperluan hiburan, agar bisa menghasilkan pertunjukan yang menarik, diperlukan latihan antara penghipnosis dan suyet,'' katanya. Lantas dia menjelaskan, hipnoterapi merupakan satu dari empat cabang hipnosis. Tiga lainnya, yakni hipnosis metafisik, hipnosis forensik, dan hipnosis panggung. Hipnosis metafisik berkait paut dengan persoalan metafisika, misalnya gendam. Hipnosis forensik digunakan untuk keperluan penyelidikan di kepolisian. Adapun cabang hipnosis yang disebut terakhir menggabungkan antara sugesti dan hiburan, seperti yang ditekuni seniman hipnosis Romy Rafael. Ya, kalau pada beberapa kali kesempatan tak terlampau optimal, pemakluman mesti dikedepankan. Sebab, mereka adalah suyet amatiran, yang dicomot begitu saja dari para peserta seminar. Tapi paling tidak, simulasi yang dipapar Masruri memberikan gambaran nyata tentang hipnosis. Dia menjelaskan, dasar hipnosis adalah membuang pikiran seorang suyet. Caranya, dengan menginduksi pikiran orang itu. Proses induksi bisa dilakukan lewat percakapan yang monoton, menghitung mundur, atau meminta suyet gerakan bandul. Hal itu bertujuan agar pikiran suyet siap menerima induksi. Kesiapan suyet menerima induksi, kata pakar hipnoterapi dr Arya Hasanuddin Dipl PsychPharm, merupakan hal penting untuk kesuksesan hipnosis. Tanpa itu, hipnosis tidak akan berjalan seperti yang diharapkan. Begitu juga pada suyet yang tidak mampu melakukan relaksasi atau takut terhadap hipnosis. ''Dan yang terpenting, suyet harus percaya penuh terhadap penghipnosis. Nggak boleh, wah kalau mata saya terpejam, jangan-jangan nanti diapa-apain. Terus, mata yang satunya mengintip,'' tutur dia, sembari memperagakannya. Kilas Balik Hipnosis sesungguhnya bukan barang baru dalam kehidupan manusia. Konon kata sahibul hikayat, selama berabad-abad bangsa Sumeria telah berkarib dengan hipnosis. Mereka menggunakan hipnosis untuk ''menidurkan'' orang sakit, saat proses penyembuhan berlangsung. Kemudian, Franz Anton Mesmer (1734-1815) memberi warna modern dan ilmiah pada hipnosis. Dokter asal Austria itu yang memperkenalkan mesmerisme atau metode penggunaan energi elektromagnetik manusia yang bisa ditransfer kepada orang lain atau untuk diri sendiri. Dari nama dia, muncul istilah mesmeric sleep atau somnambulism, keadaan seseorang dibuat tertidur tetapi tetap bisa diajak bicara yang menjadi cikal bakal hipnosis. ''Dengan metode itu, dia bisa menyembuhkan banyak orang dengan hasil yang menakjubkan. Salah satu warisan Mesmer adalah hipnosis dengan pendulum atau bandul bergerak, yang sekarang metode itu sudah mulai ditinggalkan orang,'' terang dr Arya. Konsep dan langkah Mesmer disempurnakan oleh James Braid, ahli bedah asal Skotlandia, pada 1843. Dia juga yang memopulerkan istilah hipnosis. Dia mengembangkan temuan Mesmer dengan membaginya menjadi dua cabang: magnetisme dan hipnosis. Braid pun menggunakan sugesti verbal untuk terapi penyembuhan. Masruri menyatakan, hipnosis merupakan keterampilan motorik yang bisa dipelajari oleh siapa pun. Tak ada unsur mistik atau laku tertentu untuk bisa menguasainya. ''Tak perlu waktu lama untuk sekadar bisa menidurkan orang atau membuat orang lain menurut. Paling cuma butuh waktu dua sampai tiga jam belajar. Tapi kalau untuk pendalaman, bisa sampai bertahun-tahun.''(33t) | ||||