logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 20 April 2005 MURIA
Line

Cabai Memang ''Pedas''

BAGI sebagian besar warga, memasak makanan tanpa disertai bumbu cabai akan terasa hambar. Bahkan di beberapa daerah di Indonesia bagian timur, memakan pisang goreng pun harus disertai bumbu cabai. Akibatnya, permintaan terhadap cabai di daerah itu cukup tinggi. Padahal produksi cabai tidak begitu banyak.

Bisa ditebak, harga cabai pun relatif lebih mahal. Konon untuk memenuhi permintaan cabai itu, para pedagang di sana harus mendatangkan cabai dari daerah lain. Salah satu tempat yang menjadi jujukan untuk mendapatkan cabai adalah Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora.

''Selain untuk memenuhi permintaan warga di kabupaten tersebut, cabai dari daerah kami kadang-kadang jika panen melimpah juga dibawa oleh pedagang ke luar pulau. Mereka menjualnya lagi di sana,'' ujar Misnadi, salah seorang petani cabai di Desa Turirejo, Kecamatan Jepon kepada Suara Merdeka, kemarin.

Dulu, menurut kakek dua orang cucu itu, desanya dan beberapa desa lainnya di Kecamatan Jepon terkenal dengan produksi cabai. Bahkan, lanjutnya, sebagai simbul daerah penghasil cabai, pemerintah setempat membangun tugu cabai di depan Pasar Induk Jepon.

Dilematis

Menurutnya, pada tahun 1980-an desa yang kala itu berpenduduk tak lebih dari 1.500 orang itu lebih dari 50% warganya menanam cabai. Pada tahun itu, dari 1.345 ha luas lahan pertanian di desanya, 965 ha di antaranya ditanami cabai.

Namun karena harga jual tidak sebanding dengan biaya perawatan tanaman, lambat laun petani di desanya enggan menanam cabai. Misnadi memperkirakan, kini hanya 30% warga desanya yang masih mau menanam cabai.

''Bayangkan, untuk menanam dan memelihara tanaman cabai seluas satu hektare saja dibutuhkan biaya tak kurang dari Rp 500.000. Padahal uang yang kami dapat dari penjualan cabai itu sering tidak menentu, terkadang untung, terkadang juga rugi,'' ungkapnya. Sebenarnya, lanjut alumnus salah satu pesantren terkemuka di Rembang itu, pada bulan-bulan tertentu harga cabai di pasaran naik cukup tajam.

Namun sering pada saat terjadi kenaikan harga, tanaman cabai mengalami kerusakan. ''Contohnya, sebelum Lebaran kemarin. Harga cabai cukup tinggi, tapi tanaman cabai kami banyak yang rusak akibat diguyur hujan,'' ujarnya.

Bukan hanya itu, jika terjadi panen serentak, harga cabai bisa jatuh hingga Rp 1.000/kg. Padahal, menurutnya, satu hektare lahan tanaman cabai hanya menghasilkan dua kuintal cabai. ''Biaya tanam Rp 500.000 tapi harga jualnya hanya Rp 200.000,'' timpal Rizky Yulianto, salah seorang petani lainnya.

Misnadi, Rizky, dan beberapa petani cabai lainnya mengaku harus menerapkan strategi jitu agar terhindar dari kerugian besar. Menurut mereka, hanya petani yang paham situasi dan kondisilah yang akan mendapat untung lebih banyak.

''Pokoknya, pandai-pandai saja melihat situasi dan kondisi. Kapan kita harus memulai menanam cabai. Jika tidak, kerugian yang dialami akan lebih banyak lagi,'' ujar Rizky sambil menambahkan, cabai benar-benar "pedas".

Selain itu, lantaran keuntungan yang didapat sering tidak menentu, Rizky dan beberapa petani lainnya kini mulai beralih menggeluti usaha lain, namun masih tetap dalam bidang tanaman cabai. Usaha itu adalah pembibitan tanaman cabai. Bapak satu orang anak itu mengatakan, usaha tersebut lebih menjanjikan dibandingkan dengan menanam cabai hingga panen.

''Biaya pembibitan ataupun pemeliharaan dalam satu hektare lahan tidak sampai Rp 100.000, tapi hasilnya bisa jutaan rupiah,'' ujarnya bangga. Ketenaran kualitas cabai di desanya berdampak pula pada minat warga di daerah lain untuk membeli bibit yang mereka budi dayakan itu. ''Kalau tidak cepat-cepat dipesan, mungkin bibit ini sudah habis terjual,'' ujarnya

''Banyak sekali warga yang datang untuk membeli bibit ini,'' pungkasnya. (Abdul Muiz-15n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA