| Rabu, 20 April 2005 | MURIA |
Harga Minyak Tanah di Jepara Melonjak
JEPARA - Terbatasnya stok bahan bakar minyak tanah, membuat para pedagang eceran dan konsumen mengeluh. Akibat stok ke pengecer berkurang, dalam beberapa pekan terakhir harga minyak tanah melambung dan memberatkan masyarakat, terutama para nelayan yang menggunakan minyak tanah sebagai campuran solar untuk mesin perahu. Informasi yang dihimpun Suara Merdeka kemarin, di pangkalan nelayan Kelurahan Jobokuto, Kecamatan Jepara, harga tertinggi minyak tanah Rp 1.600/liter di tingkat pengguna. Di Kecamatan Kembang harga rata-rata Rp 1.500/liter. Suntono (45), nelayan Kelurahan Jobokuto merasa semakin berat menanggung biaya untuk melaut akibat tingginya harga minyak tanah. ''Menurut keputusan pemerintah, minyak tanah untuk kebutuhan nonindustri kan tidak naik sebagaimana bensin dan solar. Tapi melihat harga yang ada sekarang, beban biaya melaut sebagai nelayan semakin terasa berat ,'' ka ta dia sebagai nelayan kecil yang tiap hari butuh minyak tanah paling tidak 30-40 liter. Beratnya ongkos melaut, diperparah dengan harga ikan yang terus merosot hingga 100 persen lebih. ''Beberapa tahun lalu ikan kembung harganya Rp 7.000/kg, sekarang hanya Rp 3.000/kg. Sementara harga ikan tengiri yang semula Rp 17.000/kg, saat ini hanya Rp 12.000/kg,'' kata Suntono. ''Nelayan di daerah kami juga terpukul dengan tingginya harga minyak tanah untuk kebutuhan nelayan,'' kata Jani, nelayan Desa Tubanan, Kecamatan Kembang yang menginformasikan bahwa harga minyak tanah di daerahnya hingga kemarin mencapai Rp 1.500/liter. Para pedagang pengecer mengaku, dalam sebulan terakhir stok minyak tanah dari pangkalan tak bisa memenuhi permintaan. Maemunah (47), pedagang pengecer dari Jobokuto menuturkan, sebulan lalu ia masih bisa kulakan minyak tanah seminggu mencapai tujuh drum. Saat ini ia hanya bisa mendapatkan 2-3 drum seminggu. Wajar, begitu minyak tanah sore hari sampai di warungnya, sore itu pula minyak langsung habis diserbu pembeli. ''Kebutuhan nelayan tinggi, karena mereka memilih minyak tanah sebagai oplosan solar untuk bahan bakar mesin. Bahkan ada yang hanya menggunakan minyak tanah,'' tutur dia yang biasa mengambil dari pangkalan minyak tanah di Kelurahan Bulu, Kecamatan Jepara. Mengenai tingginya harga, lanjutnya, lebih disebabkan kelangkaan minyak di pangkalan. ''Saya sering kulakan sampai ke Desa Karangaji, Kecamatan Kedung, yang jaraknya mencapai 20 kilometer. Harga semakin tinggi karena termakan biaya transportasi. Terlebih saya mendapatkan minyak tanah tidak dari pangkalan langsung,'' kata dia. Sembilan Agen Kasi Perdagangan Dalam Negeri Disperindagkop Kabupaten Jepara, Pramono kemarin mengatakan, di Jepara terdapat sembilan agen. Empat di antaranya agen dari Semarang dan lima agen dari Jepara sendiri. Dari seluruh agen yang ada untuk Jepara, tiap hari mendapat stok 115.000 liter/hari. Kuota tersebut adalah untuk jenis minyak tanah yang disubsidi, berbeda dengan minyak tanah untuk kebutuhan industri. ''Sejauh pantauan kami, dari stok yang ada, kebutuhan minyak tanah masih mencukupi, meski sangat terbatas,'' katanya di sela-sela pantaua di pasar-pasar di Jepara. Namun dia mengakui, harga di tingkat pengguna memang naik. Dikatakan, sebenarnya harga minyak tanah di pangkalan Rp 915-Rp 1.050/liter. ''Kami terus memantau mengenai ketersediaan dan jangan sampai harganya melambung tinggi,''katanya. (mds-15) |