logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 20 April 2005 MURIA
Line

Aprilan di Rembang

Peziarah Mengalir bagai Air Sungai

MENJELANG peringatan hari lahir ke-126 RA Kartini, banyak rombongan luar daerah terutama kaum ibu dan pelajar yang berkunjung ke Rembang. Berdasarkan catatan Suara Merdeka, tiga hari terakhir ini rombongan yang datang jumlahnya terus meningkat, sudah lebih 43 bus.

Mengapa banyak rombongan yang datang ke Rembang? Jawabnya tidak sulit. RA Kartini yang dilahirkan di Desa Mayong, Jepara pernah tinggal di Kabupaten Rembang setelah diambil garwa permaisuri oleh Bupati RMAA Djojoadhiningrat.

Pada 17 September 1904, RA Kartini wafat dan dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Kabupaten Rembang. Itu sebabnya, banyak orang datang ke Rembang untuk berziarah.

Berdasarkan sejarah, RA Kartini semasa hidupnya sangat gigih dalam memperjuangkan hak-hak kaumnya. Sebab dia merasakan, penekanan terhadap kebebasan kaum wanita.

Nasib kaum wanita pada zaman itu, dirasakan oleh RA Kartini sangat tertindas. Sehari-hari mereka harus berkurung di antara dinding-dinding rumahnya alias dipingit.

Melihat kenyataan itu, Kartini berupaya memperjuangkan kaumnya dari adat yang menghambat kebebasan mereka.

Meskipun panas matahari terasa menyengat badan, sejak 1 April makam RA Kartini tak pernah sepi pengunjung. Lebih lagi menjelang puncak peringatan Hari Kartini pada 21 April, pengunjung terus mengalir bagaikan air sungai bergerak menuju ke satu titik, yakni kompleks makam RA Kartini.

Tak ketinggalan para pedagang yang ingin memburu rezeki. Sejak pertengahan April, mereka menggelar dagangannya di seputar kompleks makam.

Mereka datang lebih awal dari pengunjung. Para pedagang kaki lima (PKL) itu sebagian besar dari luar daerah, seperti Pati, Kudus, Demak, bahkan Solo.

Barang-barang yang dijajakan pada umumnya benda suvenir mulai dari kerajinan anyaman, batu-batu akik, benda-benda seni dari tanah liat, dan aksesori kaum perempuan seperti gelang, kalung, cincin, anting-anting yang terbuat dari monel dan perak. Selain itu juga ada pedagang buah, makanan, dan minuman.

Kastubi (47), pedagang suvenir asal Kudus menuturkan, sudah empat kali berjualan di Rembang khususnya pada acara Aprilan. Selama berjualan di kompleks makam Kartini, dia tidak pernah mengalami kerugian.

''Alhamdulillah, saya tak pernah rugi. Mudah-mudahan Aprilan ini untung saya bisa lebih besar,'' ujarnya.

Kepala Dinas Pariwisata Drs Leo Maryono mengemukakan, sebenarnya ada tiga tempat yang menjadi perhatian para pengunjung acara Aprilan. Pertama, kompleks makam RA Kartini. Kedua, musium Kartini di kompleks pendapa kabupaten. Dan ketiga, Taman Rekreasi Pantai Kartini di Kota Rembang.

Dengan jasa-jasa Kartini, pemerintah sudah selayaknya menjaga keberadaan makam RA Kartini dan menjaga kelestarian benda-benda peninggalan pahlawan wanita itu. Dengan demikian, peninggalan itu dapat digunakan sebagai ajang pembelajaran buat generasi mendatang.(Djamal A Garhan-90j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA