| Senin, 18 April 2005 | SALA |
Persis 40 Hari Kematian Istri, Rumah Karto RobohKARTO Wijoyo (79) hanya bisa bersedih. Sebentar-sebentar lelaki yang terlihat ringkih itu menatapi rumahnya yang kini sudah rata dengan tanah. Hanya tersisa tumpukan kayu tua dan anyaman bambu bekas dinding rumahnya. Warga Dukuh Beteng, Desa Beteng, Kecamata Jainom, Klaten itu kehilangan tempat tinggalnya, Selasa (12/4) petang lalu. Hujan deras disertai angin kencang telah menumbangkan pohon durian di samping rumahnya. Malang, pohon itu menimpa rumah sederhana yang selama ini dia tempati berdua bersama istri tercintanya. Kini Karto tak punya tempat berteduh lagi. Dia menumpang di rumah salah satu tetangganya. Dia tidak menginap di rumah anak satu-satunya yang tinggal di lain kecamatan. ''Waktu itu, hujan deras sekali dan anginnya kencang. Saya duduk di emperan sendirian. Tiba-tiba pohon durian roboh menimpa rumah saya. Untung saya bisa menyelamatkan diri sehingga tidak tertimpa reruntuhan,'' kata Karto. Robohnya rumah itu membuat kesedihan yang dialami Karto semakin mendalam. Betapa tidak, rumahnya roboh saat dia mempersiapkan peringatan 40 hari meninggalnya istri yang selama ini mendampinginya. Sesekali dia memegang dadanya yang sesak sambil menahan sedih. Barang-barang miliknya yang masih tersisa sudah diungsikan ke rumah tetangga. Warga sekitar juga sudah membantu memotong pohon yang tumbang dan menata kayu serta genteng yang masih tersisa. Sebagian genteng hancur diterbangkan angin. ''Saya belum punya rencana membangun rumah karena tidak punya uang sama sekali. Saat ini, saya masih numpang di rumah tetangga,'' kata Karto. Kemarin, ada sedikit kegembiraan dirasakan Karto. Bupati Klaten H Haryanto Wibowo bersama stafnya datang memberikan bantuan dana tali asih. Bupati juga berjanji akan membantu korban bencana yang rumahnya roboh agar bisa dibangun kembali secara gotong royong. ''Saya akan membantu korban bencana yang rumahnya rusak parah. Nanti biar dibuat perkiraan biayanya, Pemkab menyediakan dana tapi harus dikerjakan secara gotong royong oleh warga,'' kata Bupati sambil melihat langsung rumah Karto yang sudah rata. Dalam kesempatan itu, Bupati juga menyerahkan bantuan kepada sejumlah warga yang rumahnya rusak parah. Salah satunya milik Suranto (45), warga Dukuh Paduman, Desa Beteng. Dia bersama orang tua, anak, dan istrinya mengungsi karena atap rumahnya yang terbuat dari bambu lenyap dibawa angin. Sejumlah warga bekerja bakti memasang genteng di rumah Suranto agar bisa digunakan untuk berteduh. Selama tiga hari, dia terpaksa menginap di rumah adiknya karena rumahnya tak bisa dihuni lagi. Patah Tulang Rombongan Bupati menuju rumah Poniyem (45), warga Dukuh Karangduwet, Desa Mranggen, Kecamatan Jatinom. Rumah janda itu roboh tertimpa pohon jati di belakang rumahnya. Bahkan, Poniyem terpaksa dirawat di RS Dokter Soeradji Tirtonegoro karena mengalami patah tulang belakang akibat tertimpa balok rumahnya. Bupati menyempatkan diri menjenguk korban di RS. Selain menyerahkan tali asih, dia juga berjanji menanggung biaya pengobatannya hingga sembuh. Menurut Direktur RS Dokter Soeradji Tirtonegoro, dokter Arif Faisal SpRad, dalam waktu dekat wanita itu akan menjalani operasi perbaikan tulang belakang yang patah. Poniyem yang dirawat di Bangsal F itu hanya bisa mengucapkan terima kasih sambil menitikkan air mata karena terharu. Anaknya tinggal jauh di Jakarta. Dia berharap bisa cepat sembuh dan kembali ke rumahnya.(Merawati Sunantri-85n) |