| Senin, 18 April 2005 | RAGAM |
Bersikap Toleran Kepada Orang yang Tak Sependapat (1)Salah Satu Perilaku BeradabALQURAN dan As Sunnah menjelaskan dengan rinci bahwa bersikap toleran terhadap orang-orang yang tidak sependapat dengan kita, terutama berbeda pendapat dalam masalah agama dan akidah, merupakan salah satu unsur penting dalam perilaku beradab. Dalam hal ini Alquran meletakkan dasar yang kuat sebagaimana firman Allah yang berbunyi : ''Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kamu karena agama dan tidak pula mengusir kamu dari negrimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagian kawan orang-orang yang memerangi kamu karena agamamu dan mengusirmu. Dan barang siapa menjadikan mereka sebagian kaum, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim.'' (Al Mumtahanah:8-9) Penggunaan kalimat ''Allah tiada melarang kalian'' maksudnya supaya tidak ada anggapaan dan prasangka bahwa tidak boleh berbuat baik, berhubungan dan berlaku adil kepada mereka yang berbeda agama. Ayat tersebut menjelaskan berlaku adil - maksudnya dalam bermuamalah - adalah perbuatan yang dicintai Allah SWT. Disamping berlaku adil, kita juga diperintahkan untuk berbuat baik. Berbuat baik itu sifatnya lebih umum daripada berlaku adil. Sebab berbuat baik itu maksudnya melakukan perbuatan/perkara-perkara yang baik dan utama termasuk didalamnya berlaku adil. Alquran juga meletakkan dasar yang kuat mengenai perilaku beradab dalam menghadapi perbedaan pendapat dalam masalah akidah. Ada dua hal penting yang dapat timbul dalam masalah ini. Pertama, perbedaan agama manusia itu terjadi karena kehendak Allah dan tidak terlepas dari hikmah atau Allah yang tidak dapat ditolak oleh siapa pun. Seandainya Allah menghendaki, pasti Dia akan menciptakan manusia menjadi makhluk lain yang diharuskan mempunyai satu pilihan dan satu perilaku, agar tidak terjadi perbedaan dan perselisihan. Allah berfirman : ''Jikalau Rabbmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang yang diberi rahmat oleh Rabbmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka.''(QS.Hud:118-119) Para ahli tafsir berpendapat bahwa perbedaan pendapat ini disebabkan perbedaan karakter yang memang diciptakan berbeda-beda oleh Allah SWT. Seandainya Allah menghendaki niscaya mereka dijadikan seperti Malaikat yang tidak mampu memilih dan tidak saling berbeda pendapat. Kedua, keputusan hukum orang-orang yang berbeda pendapat, dan hukum mengenai masalah keimanan kepada hal yang benar atau yang batil seluruhnya tidaklah akan diserahkan kepada manusia saat ini. Tetapi akan diadili oleh Allah pada hari kiamat. Allah SWT berfirman : ''Dan orang-orang Yahudi berkata : ''Orang-orang nasrani itu tidak mempunyai pegangan. Dan orang-orang Nasrani itu berkata : orang-orang Yahudi itu tidak mempunyai suatu pegangan. Padahal mereka (sama-sama) membaca al kitab. (Demikian). Pula orang-orang yang tidak mengetahui mengatakan seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili diantara mereka pada hari kiamat tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya.''(Al Baqarah:113) Terhadap orang-orang yang berbeda pendapat Allah berfirman kepada Rasul-Nya: ''Dan jika mereka membantah kamu, maka katakanlah : ''Allah lebih mengetahui tentang apa yang kamu kerjakan. Allah akan mengadili diantara kamu pada hari kiamat tentang apa yang kamu dulu selalu berselisih mengenainya.''(Al Hajj : 68-69) Allah SWT telah memberikan pengarahan kitab kepada Rasulullah SAW bagaimana cara bermuamalah dengan ahli kitab : ''Dan tetaplah sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti nafsu mereka dan katakanlah : ''Aku beriman kepada semua kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil diantara kamu. Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu. Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nya lah (kita) kembali.''(Asy Syura:15) Sunnah Nabi telah menguatkan ketetapan Alquran tersebut, dan telah pula memberikan contoh praktisnya secara rinci. Sekalipun orang-orang Yahudi di Madinnah tidak dapat dipercaya dan mempunyai watak yang tidak bersahabat serta pernah berkomplot untuk membunuh Nabi, dan bergabung dengan orang-orang musyrik untuk memerangi Nabi serta menghancurkan pertahanan beliau. Walaupun demikian Nabi tetap memperlakukan mereka dengan baik, berbicara dengan lemah lembut dan memperlakukan mereka dengan kasih sayang. Sehingga perbuatan beliau ini merupakan teladan yang sangat baik.(Tim Kajian Qolbun Salim-35) |