logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 18 April 2005 PANTURA
Line

Selamatkan Sejarah Islam di Kota Tegal

TEGAL- Pekan Peringatan Maulid Nabi Kota Tegal, kemarin diawali diskusi panel "Mengupas Sejarah KH Muchlas Panggung" di Pendapa Ki Gede Sebayu.

Tampil dalam kegiatan tersebut H Ahmad Zaini Bisri SE, Redaktur Pelaksana Harian Suara Merdeka dan pembahas Guru Besar Sejarah Unnes Prof Dr Abu Su'ud.

Dalam kesempatan itu Zaini mengutarakan gagasan untuk menulis biografi KH Muchlas dalam bentuk buku. Gagasan tersebut, kata dia yang juga menantu KH Muchlas, berawal dari pertemuan anggota keluarga antara lain Kol (Purn) Nur Kaukab.

"Tujuannya untuk menyelamatkan sejarah kehidupan KH Muchlas yang sekaligus menyelamatkan sejarah perkembangan Islam di Kota Tegal. Nah untuk mewujudkan gagasan tersebut dibentuklah Tim Penyusunan Buku Biografi KH Muchlas yang diketuai Nur Kaukab, sedangkan saya hanya diserahi menulis," kata dia.

Menurutnya, proses penulisan tokoh ulama besar Kota Tegal yang meninggal setengah abad lalu itu tidak semudah yang diperkirakan. Sebab, banyak kendala yang dihadapi terutama minimnya bahan-bahan yang tersedia.

"Ada dua kendala besar, yakni pertama ketika menulis kembali perjalanan hidup KH Muchlas dalam bentuk karya ilmiah, namun yang bersangkutan meninggal dunia setengah abad lalu dan nyaris tanpa meninggalkan karya tulis."

Selain itu, lanjutnya, sumber-sumber tertulis yang pernah menerangkan atau mengutip kehidupan KH Muchlas juga sulit ditemukan.

"Sebagian saksi sejarah yang bisa memberikan keterangan memadai mengenai sosok kiai tersebut telah meninggal. Bahkan, tujuh istrinya yang dipandang menyimpan keterangan otentik juga tiada."

Menurut dia, saksi sejarah yang masih hidup mulai dari anak-anak hingga pembantu rumah dan bekas santrinya juga tidak bisa memberikan keterangan utuh. Mereka memberikan kesaksian berdasarkan sudut pandang dan masa tertentu.

Masukan

Meski menemui hambatan, dia mengatakan, pihaknya berusaha melakukan studi yang maksimal dengan menggabungkan antara sumber saksi yang masih hidup dan sumber tertulis yang dapat digali.

Dengan mengacu metodologi sejarah lisan, dia memperoleh hasil kesimpulan sementara sosok KH Muchlas merupakan ulama ahli tafsir, pejuang, dan pendidik.

Menurut Abu Su'ud, sudut pandang ilmiah dalam sejarah tidak harus objektif. "Nanti akan terus berkembang. Seperti metode penulisan hadis bisa diterapkan dalam tulisan sejarah. Nah, di situ nanti akan ditemukan kebenaran. Semakin banyak karya yang mengulas, saya rasa lebih baik asalkan bersifat mendidik," ujarnya.

Dalam kesempatan itu, panelis memperoleh masukan dari para peserta diskusi. Seperti apa yang disampaikan Nurhadi, asal Talok, Pangkah, Kabupaten Tegal memberikan masukan soal asal-muasal sosok KH Muchlas yang berasal dari Wanagupa, Warureja, Kabupaten Tegal.

Hal yang sama juga disampaikan Masqon, asal Comal, Pemalang yang mengaku ayahnya bekas santri KH Muchlas. Menanggapi hal tersebut, panelis menerima masukan untuk dijadikan bahan demi kesempurnaan hasil tulisan.(G12-42s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA