| Senin, 18 April 2005 | PANTURA |
Pengamatan Gunung Slamet Ditingkatkan
PEMALANG- Petugas Pos Pengamat Gunung Slamet Gambuhan, Pemalang kini meningkatkan pengamatan terhadap gunung tersebut. Aktivitas gunung hingga kemarin masih dinyatakan normal, tidak mengalami kejadian yang menonjol. Walaupun ada peningkatan frekuensi pengamatan, situasi di Pos Gambuhan masih tampak seperti biasanya. Peningkatan pengawasan adalah untuk mengantisipasi jika timbul gejala, sehubungan dengan adanya sejumlah gunung berapi bereaksi. Kepala Pos Pengamat Gambuhan Sukedi mengatakan, Gunung Slamet tetap aktif namun dalam keadaan normal, baik mengenai gempa yang terjadi maupun suhunya. Asap yang mengepul di kawah puncak juga normal. Ketinggiannya berkisar antara 50 hingga 100 meter berwarna putih cerah. "Yang meningkat justru aktivitas kami dalam melakukan pengamatan. Hal itu bukan karena ada pengaruh dari sejumlah gunung api yang sedang bereaksi, melainkan fenomena alam itu membuat kami meningkatkan pengamatan," katanya, kemarin saat ditemui di Pos Gambuhan. Peningkatan pengamatan itu maksudnya jika pengukuran suhu air di Guci biasanya dilakukan dua kali dalam satu bulan, sekarang dilakukan empat kali. Pengukuran air dilakukan di tiga tempat, yakni sumber air Pasepuhan, Rorokidul, dan Pemandian. Hasil pengukuran untuk sumber air Pasepuhan dan Rorokidul berkisar 44 sampai 55 derajat celsius, sedangkan di pemandian berkisar 36 sampai 44 derajat celsius. Selain pemantaun suhu air, Sukedi juga melakukan pemantauan naik ke atas puncak. Pemantauan di puncak dilakukan dua pekan lalu bersama tim pengamat gunung api dari Jerman. Pada saat itu tim mengambil sampel gas di puncak pada lokasi kawah utama. Sementara gempa yang tercatat pada alat seismograf masih menunjukkan normal. Gempa terjadi pada permukaan kawah di puncak yang diakibatkan oleh konsentrasi gas. Gempa tersebut tidak dirasakan oleh manusia, hanya terekam oleh alat seismograf. Gempa bisa muncul ratusan kali setiap hari, namun tidak memengaruhi aktivitas gunung. Selain itu terekam pula gempa tektonik yang bukan diakibatkan dari aktivitas gunung, melainkan akibat pergeseran lempengan bumi. Menurut Sukedi, gunung api satu dengan lainnya tidak ada hubungan karena punya magma sendiri-sendiri. Setiap peningkatan aktivitas gunung api belum tentu diakhiri dengan letusan. Melihat aktivitas Gunung Slamet seperti itu, masyarakat diminta tak perlu waswas. Petugas pos pengamat akan melakukan laporan secara rutin seperti biasanya. Dalam keadaan normal laporan tertulis dikirim setiap bulan pada minggu pertama. Laporan dikirim kepada gubernur, bupati, Kesbang Linmas, dan camat. Kalau aktivitas naik laporan disesuaikan dengan kebutuhan.(sf-90s) |