logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 18 April 2005 WACANA
Line

Surat Pembaca

Belimbing Demak

Sepuluh tahun silam, saya beli belimbing di kios buah-bahan pojok alun-alun Demak yang waktu itu berjajar di pinggir jalan pojok kiri di depan Masjid Demak. Tetapi alangkah terkejut saya, sampai di rumah ternyata isinya telah dicampur dengan belimbing kecil-kecil dan sebagian lain kualitasnya agak rusak.

Tanggal 17 Maret 2005 kembali saya bertemu dengan para pedagang belimbing yang kini sudah menempati kios permanen di ujung timur pojok kiri depan Masjid Demak. Saya mengantar rombongan tamu dari Purwokerto. Ketika rombongan membeli belimbing, lagi-lagi terjadi kecurangan oleh sebagian pedagang.

Untung hal itu ketahuan dan meski mengganti tetapi sikap oknum pedagang tidak ramah lagi. Ada juga yang mencoba mengelabuhi pembeli dengan memanipulasi timbangan dan terkadang harga yang ditawarkan cukup mahal.

Dari kali kedua kejadian tersebut, saya terdorong mengungkap ini sebab keberadaan para pedagang tersebut tak dapat dipisahkan dengan Masjid Demak yang menjadi obyek wisata rohani. Pembeli dagangan mereka kebanyakan para pengunjung Masjid Demak.

Disadari atau tidak, ulah oknum pedagang nakal tersebut dapat mengecewakan pembeli yang datang dari berbagai wilayah di Indonesia. Agar ke depan para pembeli tak lagi dikecewakan, maka pihak yang berkompeten seperti Dinas Pasar dan pengelola Masjid Demak maupun kantor Perdagangan perlu memberikan pembinaan.

Harapannya pada akhirnya para pedagang menyadari bahwa perilaku berdagangnya harus mencerminkan terpuji dan sekaligus menjaga nama baik Kota Demak.

Sudarini

Jl. Rasamala Timur II/152, Semarang

***

Pusat Jajan Gg Warung

Barangkali saya orang yang paling berbahagia mendengar akan direalisirnya Pusat Jajan di Gang Warung Semarang. Saya bahagia karena akan punya identitas tersendiri yang diharapkan akan menggerakkan orang datang ke Semarang.

Namun ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan Bpk Wali Kota. Keberadaan Pusat Jajan ini harus betul-betul populis dalam arti masyarakat sekitar juga mendukung. Jangan sampai keberadaannya menimbulkan akibat yang kurang menyenangkan atau mengganggu. Menurut saya ada hal yang perlu dikaji sbb:

-Sisi ekonomi. Kegiatan ini harus dapat meningkatkan ekonomi kerakyatan. Rakyat harus diuntungkan, di samping dapat meningkatkan PAD Pemkot. Perlu dipertimbangkan matang mekanisme pemungutan pajak daerah dan cara membayar makanan.

- Sisi budaya. Pusat Jajan akan punya nuansa lain kalau dikemas dengan budaya tradisional Jateng. Rasanya kesenian siter ikut berperanan menjadi hiburan bagi yang sedang makan. Jadi di samping hiburan juga memberi pendapatan pada seniman siter. Keaslian para penjual harus tetap dipertahankan. Contoh penjual mi kopyok makanan khas Semarang, cara menjualnya harus tetap dengan pikulannya.

- Sisi sosial. Keberadaan Pusat Jajan jangan sampai meresahkan masyarakat sekitarnya. Peran lurah sangat penting. Masyarakat harus diajak secara nyata dan diberi pengertian serta diyakinkan bahwa kegiatan ini akan dapat merubah hidupnya.

Semoga tulisan kecil saya dapat menyadarkan dan menggerakkan warga Semarang untuk mulai mencintai kotanya agar dapat dipandang oleh warga kota lain. Bagi para tokoh intelektual, semoga dapat mendorong penelitian agar keberadaannya bisa diterima masyarakat .

Parmanto SH MHum

Jl. Meranti Raya 301 Semarang

***

Figur Seorang Pemimpin

Di zaman sekarang pilih pemimpin biasanya dari tokoh partai, meski figur manusianya kadang kurang tepat misalnya sudah lanjut usia, tak sehat jasmani dan lainnya. Padahal pemimpin harus cerdas, murah senyum dapat ngemong orang kecil. Juga tak selalu membuat keputusan yang meresahkan masyarakat.

Pemimpin harus sering berkunjung ke wilayah/jajarannya, membawa bantuan kepada warga. Contoh apa yang pernah dirintis mantan Bupati Jepara Drs H Soenarto MM yang sering mengadakan kunjungan ke pondok pesantren, shaat jumat bersama para tokoh/kiai dan dikucuri bantuan.

Meski telah meninggalkan Jepara, namun ingatan kucuran bantuan tetap ada. Penggantinya Bpk H Hendro Martojo MM juga melakukan hal sama dengan bantuan rata-rata Rp 2 juta ke ponpes dan masjid. Saya sering ikut nrambul, meski tak mendapat jatah.

Inilah figur sosial sosok seorang pemimpin yang perlu diacungi jempol atas kepeduliannya terhadap masyarakat. Pemimpin benar-benar melaksanakan tugas jabatannya sebagai pelayan masyarakat yang arif dan bijaksana.

Amar Makruf

Purwogondo, Kalinyamat, Jepara

***

Model SMP Terbuka

Sebagai langkah penuntasan Wajar Dikdas, Pemerintah menyelenggarakan SMP Terbuka di seluruh provinsi sejak tahun 1979 sampai sekarang. Siswa belajar di TKB (Tempat Keegiatan Belajar) dengan memakai gedung SD, balai desa, masjid atau rumah penduduk, dengan bimbingan guru pamong.

Secara berkala mereka datang ke SMP Induk untuk belajar secara tatap muka dengan guru mata pelajaran (guru bina) antara 5 s.d 12 jam/minggu. Secara teoritis siswa diharapkan lebih banyak belajar mandiri dengan mempelajari modul, radio, kaset audio dan televisi serta sesekali datang ke Induk.

Tetapi nampaknya hal ini banyak mengalami kendala. Realitas yang ada, guru pamong lebih dominan mengajar seperti di SD. Umumnya siswa merasa keberatan datang ke SMP Induk. Sedangkan esensi SMP Terbuka diperuntukkan bagi siswa yang nasibnya kurang beruntung.

Misal harus bekerja, menjadi pengungsi akibat bencana alam/kerusuhan, kendala geografis karena tinggal di dusun terpencil. Sebagai solusi, perlu dikembangkan Model SMP Terbuka tanpa SMP Induk, yaitu diselenggarakan dan diserahkan di SD setempat secara penuh atau dengan model SD yang ditempeli SMP.

Dewasa ini guru-guru SD sudah banyak yang menempuh D2 dan S1, serta berpengalaman mengelola Kejar Paket B, Kejar Paket C, bahkan UT (Universitas Terbuka), berjalan dengan lancar dan sukses. Guru bina dari SMP Induk mungkin akan lebih senang jika tidak dilibatkan dalam SMP Terbuka karena beban tugas mengajarnya di SMP reguler sudah banyak menyita waktu.

Drs Bambang Wiyanto

Salamsari Rt 2/Rw 5 Boja, Kendal

***

Jl Karanganyar Demak ke Kudus Memprihatinkan

Di era otonomi daerah, nampaknya jalan raya menjadi merana. Padahal semestinya mendapatkan prioritas, karena merupakan akses menuju ke satu daerah untuk menunjang lancarnya transportasi. Namun kenyataannya jalan raya Karanganyar Demak-Kudus sungguh sangat memprihatinkan.

Konon 10 tahun lalu sudah diukur untuk diperlebar, namun sampai sekarang jalan tersebut nampaknya tidak terawat, sempit, bergelombang banyak lobang. Badan aspal dengan tanah lebih tinggi bahkan ada yang 30 cm sertaa tidak adanya jalan untuk bersepeda.

Tiap hari sering terjadi kecelakaan baik ringan/berat mana masuk sungai, tabrakan dan lain-lain. Kalau tidak percaya silakan tanya Bapak Kapolsek Karanganyar. Melalui Surat Pembaca ini mohon kepada Bapak/Ibu yang berwenang terutama Dinas PU agar segera memperhatikan.

Sekadar saran, kalau tidak mampu membangun/melebarkan tolong rawat secara rutin. Hal ini untuk mengurangi angka kecelakaan.

Drs Asror UM

Jl Balai Desa 214 Mlati Lor, Kudus


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA