| Senin, 18 April 2005 | SEMARANG |
Melayani dengan HatiTAMPAKNYA sudah jamak bila staf public relations (PR) atau humas memiliki paras cantik dan berpenampilan menarik. Namun harap dicatat, modal tersebut tidaklah cukup bila tidak diimbangi dengan kemampuan dan pengetahuan yang memadai. "Sebagai PR, berpenampilan menarik sudah menjadi tuntutan. Namun pengembangan pengetahuan mutlak diperlukan untuk menyelesaikan masalah dengan klien dan membina hubungan baik dengan berbagai mitra kerja," kata Lucia Arry Widayanti SPd, staf Humas PT Coca Cola Bottling Indonesia (CCBI) Bawen, Kabupaten Semarang, di ruang kerjanya, belum lama ini. Alumnus Bahasa Inggris IKIP Sanata Dharma Yogyakarta 1993 itu mengatakan, dia bergabung dengan CCBI sejak 1994. "Pertama kali saya di bagian marketing, kemudian dipercaya di humas," kenang wanita yang sewaktu kuliah pernah mengajar bahasa Inggris di O'Brien English Course Yogyakarta itu. Meski kadang-kadang merasa bidang studinya kurang sesuai dengan pekerjaannya, wanita yang enggan menyebut tahun kelahirannya itu mengaku enjoy bekerja. "Yang penting kita bisa menguasai pekerjaan itu," ucap dia yang juga nyambi menjadi MC itu. Menurut dia, seseorang itu dalam bekerja seharusnya profesional dan luwes. "Apalagi di PR, yang dijual kan jasa atau pelayanan sehingga melayani mitra kerja harus dengan hati (dengan baik dan tulus)," tutur ibu dari Rebecca Elisabeth Juliana (8) itu. Selain memiliki kemampuan berkomunikasi, Lusi, demikian dia akrab disapa di kantornya, sejak 2002 hingga sekarang dipercaya sebagai leader dalam lembaga konsultasi pengelolaan motivasi Potensia Consultant. "Itu bisa saya lakukan pada weekend bila diminta sebuah sekolah atau instansi untuk menumbuhkan motivasi seseorang," jelasnya. Tidak jarang pula lembaga tersebut menjadi tempat berkeluh bagi orang yang dilanda krisis percaya diri. "Seperti orang yang mengeluh karena tak kunjung mendapat pekerjaan. Di situ kami akan berusaha menggali potensinya dengan mencari bakat apa yang dimiliki," terangnya. Namun, tambahnya, faktor pendorong tersebut hanya 20%. "Yang 80% keberhasilan itu berasal dari diri sendiri," ingatnya. (Rony Yuwono-91n) |