logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 18 April 2005 SEMARANG
Line

''Bangjo Sing Nguripi Aku''

TANGAN Dadang (14) dengan lincah menyapukan kuas ke atas kanvas. Berulang-ulang dia menghapus sapuan yang telah dibuatnya.

Berulang-ulang pula kanvas dalam genggaman tersebut dicelupkan dari satu tinta ke tinta yang lain sehingga didapat warna yang cocok. Sesuai dengan benak.

Bagi orang lain yang melihat, tak begitu jelas apa yang ingin disampaikan Dadang yang menjadi satu kelompok dengan Widi dan Dwi dalam lomba lukis yang diadakan BEM Undip bertema ''Senandung Musik Aksi dan Kreasi (Semarak) Bersama Anak Jalanan: Melihat Sisi Lain Manusia dalam Kehidupan Kita'' di Auditorium Undip Pleburan, Minggu (17/4).

Hanya coretan lampu traffic light yang tergores jelas. Itu pun hanya warna merah dan hijau yang bisa dibedakan. Sebaliknya warna kuning yang seharusnya mengapit dua warna tersebut justru diberi warna gelap. Selebihnya, coretan warna-warni di segala penjuru kanvas yang berukuran 50 x 50 cm itu. Namun, ada sebuah tulisan yang terselip di sisi paling bawah yang berbunyi ''PETER.''

''Bangjo iki sing nguripi aku saben dina (Lampu pengatur lalu lintas ini yang memberi aku jalan untuk hidup setiap hari--Red). Sebaliknya, Peter itu kepanjangan dari Pengamen Terminal Terboyo,'' jelas anak jalanan yang tinggal di Pasar Johar Semarang itu.

Dadang yang menjadi anak jalanan karena terbentur biaya ketika duduk di kelas I SMP itu mengaku sengaja menggambar lampu bangjo sebagai ungkapan rasa terima kasih kepadanya yang telah memberikan tempat untuk mencari makan.

Tak Beraturan

Gambar yang berwarna gelap tak beraturan (dia tak mau menyebut corat-marit--Red), ujar dia, menunjukkan betapa susahnya cari makan di jalan. Hidup di jalan penuh risiko dan musibah kecelakaan atau terkena penyakit akibat kerap menghirup racun asap kendaraan bermotor.

''Gambar warna-warni merupakan pelangi. Pelangi kan warnanya macam-macam, jadi sesuai dengan hati saya. Terkadang senang kalau mendapat uang banyak, tapi pada lain waktu merasa susah ketika seharian tak dapat makan,'' tutur Dadang yang terpaksa memendam cita-citanya sebagai polisi.

Tak hanya Dadang, Widi, dan Dwi yang gembira menumpahkan segala ekspresi. Ayu, Sari, Shinta, dan puluhan anak jalanan lain yang berasal dari rumah singgah Putra Mandiri, Anak Bangsa, Gratama, ASA PKBI, dan Setara itu tampak ceria saat menumpahkan segala unek-unek, rasa, --dan terlebih-- bisa menunjukkan potensi dan eksistensi diri mereka sebagai manusia melalui selembar kanvas. Melalui lomba ''Semarak'' mereka merasa masih dianggap sebagai manusia, bukan lagi sebagai anak jalanan yang dianggap mengganggu keindahan kota.

Anak tetap anak. Kreativitas, kemurnian pemikiran, rasa ingin tahu, dan rasa ingin menumpahkan unek-unek dari apa yang didengar dan rasakan sehari-hari terlihat dari tingkah polah anak-anak tersebut. Lihat saja lukisan yang dibuat kelompok Eko, Dimas, Wawan, dan Salas berupa kapal berbendera Indonesia sedang melaju kencang di laut lepas.

Sebuah guratan itu, mungkin diilhami oleh keberadaan kapal perang RI yang sedang mempertahankan wilayah Ambalat.

Lain lagi gambar yang dibuat kelompok Agung yang sulit dimaknai. Warna biru yang mendominasi dengan satu satu tulisan: PSIS Semarang! Itu menunjukkan anak jalanan tak jauh beda dengan anak Indonesia lain yang tahu kondisi bangsa dan mereka pun berhak hidup di negeri ini. (Widodo Prasetyo-73n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA