| Senin, 18 April 2005 | SEMARANG |
Mangkang Tipe A, Terboyo Tipe BSEMARANG - Jika Terminal Mangkang sudah dioperasikan, maka statusnya menjadi tipe A. Pada saat yang bersamaa, Terminal Terboyo akan turun menjadi tipe B. Hal itu ditegaskan Kasubid Pengembangan Kawasan Bappeda Kota Semarang, Ir M Farchan, kemarin. ''Status Terminal Mangkang akan naik dari tipe C menjadi tipe A. Pada saat yang sama, Terminal Terboyo yang semula berstatus sebagai terminal tipe A akan bergeser menjadi terminal tipe B,'' tegasnya. Menurut dia, meski diperkirakan jumlah penumpang di Terminal Terboyo bakal mengalami penurunan, namun terminal itu tidak akan ditutup. Terminal Terboyo tetap berfungsi sebagai terminal bagi angkutan kota dan minibus dari arah timur, seperti Demak, Kudus, dan Pati. Bus besar antarkota antarprovinsi (AKAP) dan bus antarkota dalam provinsi (AKDP) akan dipusatkan di Terminal Mangkang. ''Pembangunan Terminal Mangkang sendiri tidak akan menimbulkan banyak pergeseran trayek angkutan kota. Sebab, sebelumnya terminal itu sudah ada dan sudah dilalui angkutan kota. Kami (Bappeda Kota Semarang-Red) justru memproyeksikan terminal itu menjadi pusat pertumbuhan baru di Semarang bagian barat,'' kata dia. Sekarang ini, kata Farchan, sudah banyak angkutan kota bertrayek dari atau menuju Mangkang. Pembangunan Terminal Mangkang tidak akan menimbulkan persoalan trayek, karena sebelumnya sudah berfungsi sebagai terminal tipe C. Namun dia mengaku tidak menepis kemungkinan adanya sedikit perubahan trayek. Sebab, perubahan trayek bisa terjadi sewaktu-waktu sesuai dengan kebutuhan. Terminal Bayangan Berdasarkan data Dinas Perhubungan Kota Semarang (Dishub), setidaknya ada 166 unit angkutan umum yang melayani rute dari dan menuju Mangkang. Angkutan dengan rute Terminal Terboyo-Mangkang sebanyak 24 unit, Mangkang-Bukit Kencana Jaya 25 unit, Subterminal Pudakpayung-Mangkang 24 unit, Mangkang-Penggaron 55 unit, Mangkang-Terboyo lewat Pierre Tendean 30 unit, dan Mangkang-Terboyo lewat PRPP 8 unit. Sementara itu, untuk menghindari adanya perlintasan dengan rel kereta api (KA) Mangkang, Bappeda mengusulkan agar dibangun fly over atau underpass di sekitar Terminal Mangkang. Wacana pembangunan fly over, kata Farchan, sudah disampaikan kepada pihak Bank Dunia selaku pemberi pinjaman dan pemerintah pusat. Peneliti Transportasi Unika Soegijapranata, Drs Ir Djoko Setijowarno MT, memprediksikan serupa. Menurut Djoko, pembangunan Terminal Mangkang tidak banyak mengubah trayek angkutan kota. Pembangunan terminal yang diperkirakan menelan dana sebesar Rp 43 miliar itu justru mengurangi beroperasinya "terminal bayangan" di sekitar Semarang Barat. ''Saat ini ada sekitar 10 terminal bayangan, mulai dari bundarang Kalibanteng sampai Krapyak,'' kata Djoko. Terminal bayangan itu, lanjut Djoko, tumbuh karena warga daerah Semarang Barat yang akan bepergian ke Jakarta enggan pergi ke Terminal Terboyo. Selain terlalu jauh, rute bus ke arah barat juga akan memutar. Karena itu, mereka memilih menghentikan bus di sepanjang jalan menuju Krapyak. ''Terminal bayangan itu memperparah kemacetan. Pembangunan terminal terpadu di Mangkang, akan mereduksi terminal-terminal bayangan itu,'' katanya. Lebih jauh Farchan menambahkan, saat ini pihaknya sedang merumuskan konsep pengelolaan terminal secara mandiri. Sebab, berdasarkan pengalaman, terminal yang dikelola pemerintah daerah justru kurang berkembang. Djoko Setijowarno sependapat dengan Bappeda. Dia mengusulkan pengelolaan Terminal Mangkang dilakukan dengan sistem bagi hasil antara swasta dan pemerintah daerah. (H5,G17-84a) |