| Senin, 18 April 2005 | INTERNASIONAL |
Jelang Konklaf Hari IniKardinal Masuki Ruang KhususVATIKAN - Para kardinal mulai memasuki ruang khusus, Minggu kemarin, menjelang konklaf untuk memilih pengganti Paus Yohanes Paulus II. Sebanyak 115 kardinal akan mengikuti konklaf yang bersifat tertutup di Kapel Sistine, Senin ini. Sejauh ini, belum ada kandidat favorit untuk memimpin Takhta Suci tersebut. Beberapa kardinal mengadakan misa umum di sekitar Vatikan yang diguyur hujan kemarin. Mereka menolak berspekulasi tentang pemungutan suara untuk memilih Paus baru itu. Mereka juga menegaskan sifat spiritual dari pemilihan tersebut. ''Orang mengira, kami akan memilih seperti dalam pemilu biasa. Pemilihan ini sangat berbeda. Kami akan mendengarkan bisikan ilahi dan menyimak panggilan Roh Kudus,'' kata Kardinal Oscar Andres Rodriguez Maradiaga dari Honduras. Menjelang pemilihan yang bersejarah itu, spekulasi sebagian besar media berpusat pada Kardinal Joseph Ratzinger. Ada kesan, kardinal Jerman itu bakal unggul dalam tahap awal pemungutan suara. Ratzinger merupakan ''penjaga'' doktrin Katolik dan pembantu paling dekat Yohanes Paulus II. Namun, banyak pengamat Vatikan meragukan apakah Ratzinger akan mampu memperoleh dua pertiga suara yang dibutuhkan untuk menjadi Paus ke-264. Ratzinger dianggap sebagai kardinal yang memiliki pandangan konservatif. Karena itu, masih ada peluang bagi kandidat lain yang dapat menjembatani berbagai faksi di organisasi keagaman terbesar di dunia tersebut. Para kardinal akan mengadakan pemungutan suara empat kali sehari, sampai ada seorang kandidat yang didukung dua pertiga suara. Tertutup Untuk Umum Dari delapan konklaf selama abad ke-20, tak satu pun yang berlangsung lebih dari lima hari. Dua di antaranya bahkan diselesaikan dalam dua hari. Ketika Karol Wojtyla (dari Polandia) terpilih sebagai Paus pada 1978, para kardinal hanya melakukan delapan pemungutan suara selama tiga hari. Pada konklaf-konklaf sebelumnya, para kardinal tua diwajibkan tinggal di kamar khusus di dalam Kapel Sistine yang tertutup untuk umum. Saat ini, para kardinal tidur di ruang Santa Marta, yang terletak di dalam taman Vatikan. Para kardinal makan bersama di Santa Marta, Minggu malam, dan mengadakan misa umum keesokan paginya di Basilika Santo Petrus. Pada Senin pukul 16.30 waktu Vatikan (21.30 WIB), mereka akan masuk ke Kapel Sistine untuk mulai mempertimbangkan kandidat Paus. Sekitar 15 kardinal telah dipromosikan oleh pers sebagai kandidat Paus. Beberapa di antaranya adalah dua kardinal Italia, Dionigi Tettamanzi dan Angelo Scola, Kardinal Brasil Claudio Hummes, Francis Arinze (Nigeria), dan Maradiaga dari Honduras. Saat ini, Gereja Katolik tengah menghadapi isu-isu penting, seperti kemerosotan moral di Eropa, kemiskinan ekonomi Dunia Ketiga, dan kegiatan birokrasi Vatikan yang sangat sentralistis. Para kardinal telah bersumpah untuk tutup mulut kepada media menjelang konklaf tersebut. ''Sangat sulit untuk mengetahui apa yang terjadi di Gereja. Kami rasa, itu merupakan dunia yang berbeda dari yang kita hadapi di sini,'' kata biarawati Emanuel, yang membaktikan diri di Australia dan sedang berkunjung ke makam Paus Yohanes Paulus II di Santo Petrus. Isyarat Asap Konklaf tidak sama dengan pemilihan lainnya. Tidak ada brifing pers setelah pemungutan suara. Tidak ada kampanye yang mempromosikan kandidat mereka. Hanya ada kepulan asap dari cerobong Kapel Sistine. Jika asap hitam yang mengepul, itu tandanya konklaf belum berhasil mendapatkan pengganti Paus. Bila asap putih membubung ke udara dari cerobong Sistine, itu mengisyaratkan Paus baru telah terpilih. Sebagai persiapan menyambut keputusan akhir itu, para petugas Vatikan telah memasang tirai merah di balkon St Petrus, tempat Paus baru akan tampil untuk kali pertama. Dalam beberapa jam menjelang konklaf Senin ini, Gereja Katolik menyiarkan seruan para kardinal mengenai Paus baru yang kelak akan tampil di balkon tersebut. ''Saudara-saudara, pilihlah seseorang yang akan menjamin kebebasan dan keterbukaan Gereja Katolik,'' kata Hans Kueng, salah seorang teolog yang terkenal liberal, dalam artikel di koran La Stampa. (rtr-ben-46) |