| Senin, 18 April 2005 | BANYUMAS |
Empat Anak Warsini yang Lumpuh Terima BantuanBANYUMAS- Keluarga Warsini yang empat anaknya semua mengalami lumpuh sangat berharap ada dermawan yang membantu mengobati anak-anaknya agar bisa sehat kembali. Empat anak hasil perkawinannya dengan Sahirun, yakni Musaroh (29), Amin Muntoha (27), Antinah (21), dan Riyantin (18) semuanya tak bisa berjalan, bahkan untuk berdiri sekalipun. Mereka lebih sering tergolek di tempat tidurnya. Sejak kondisi keluarga dan keempat anaknya dimuat di sejumlah media massa, termasuk Suara Merdeka, beberapa orang menaruh simpati dan belas kasihan kepada keluarga yang tinggal di Desa Tunjung RT 5 RW 4, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas. Salah seorang pembaca Suara Merdeka asal Kudus, yang begitu iba terhadap penderitaan Warsinah, telah menyampaikan bantuannya melalui kantor Suara Merdeka Biro Banyumas. Sumbangan berupa uang Rp 500.000 disampaikan kepada Warsini, Sabtu (16/4) lalu. Bantuan tersebut oleh dia akan dimanfaatkan sebagai modal jualan makanan yang keuntungannya diharapkan bisa untuk menghidupi keluarganya. Wanita berusia 53 tahun itu menjadi saka guru keluarganya. Suaminya, Sahirun yang pensiunan polisi tak kuasa lagi untuk mencari nafkah karena sudah uzur. Keempat anaknya sama sekali tak bisa diharapkan, karena hanya sering tergolek dan duduk di tempat tidurnya. Dia bekerja sebagai buruh pocokan. ''Apa saja saya kerjakan agar bisa mendapatkan uang untuk membeli beras. Mencuci, masak di rumah orang, dan jadi buruh tani pun saya kerjakan,'' ujar wanita yang terus berusaha tetap sehat agar bisa menghidupi keluarganya. Dia sangat mendambakan keempat anaknya sehat seperti sedia kala. Empat anaknya itu secara beruntun lumpuh sejak remaja. ''Sebelumnya mereka tumbuh normal seperti anak-anak lain. Tetapi setelah sakit panas hingga beberapa pekan, menjadi lumpuh. Berbagai upaya untuk mengobati anaknya sudah dilakukan. Tetapi hingga seluruh harta benda habis, mereka masih seperti saat ini,'' ungkapnya. Untuk berteduh pun, keluarga itu harus rela menempati bangunan di tengah sawah milik Dinas Peternakan yang oleh warga setempat dikenal sebagai lokasi kandang babi. ''Saya tidak tahu kalau saya sudah tidak ada, anak-anak saya siapa yang akan mengurus. Syukur ada orang yang menolong membantu menyembuhkan anak-anak saya, sehingga mereka bisa bekerja untuk memenuhi kebutuhannya,'' tutur Warsini sembari mengusap pipinya yang dibasahi air mata. (G23-92s) |