| Senin, 18 April 2005 | BANYUMAS |
Banyumasan Mulai DitinggalkanPURWOKERTO- Mayoritas masyarakat Banyumas kini secara berangsur-angsur mulai meninggalkan bahasa aslinya, yakni bahasa Banyumasan. Fenomena itu sangat memprihatinkan. Sebab warga yang mulai asing dengan bahasa Banyumasan ternyata tidak hanya kalangan anak muda dan pelajar, tetapi juga masyarakat usia dewasa, 40 sampai 50 tahun ke atas. Kondisi itu kemarin diungkapkan Budayawan Banyumas Ahmad Tohari, dalam seminar pendidikan dengan tema ''Mengangkat Citra Banyumas lewat Bahasa'' di Gedung Korpri Purwokerto, Sabtu (16/4). Pembicara lain Dr Fathur Rohman Mhum, dosen dan Ketua Lembaga Penelitian Universitas Negeri Semarang, asal Sokaraja, Banyumas. Acara difasilitasi Dinas Pendidikan. ''Saat ini keberadaan bahasa Banyumasan jarang dipakai sebagai bahasa pergaulan sehari-hari. Kondisi yang memprihatikan ada di wilayah perkotaan. Justru di kota lebih banyak orang memakai bahasa Indonesia atau bahasa Jawa khas bandekan (Yogya-Solo),'' kata Tohari. Kondisi itu terjadi, ungkapnya, karena warga Banyumas malu jika memakai bahasanya sendiri. Sebab bahasanya dinilai kasar dan menjadi bahan tertawaan. Sindrom Jajahan Tohari yang juga penulis novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk menjelaskan, penyebab tersingkirnya bahasa Banyumasan dari wilayahnya sendiri karena warga setempat terkena ''sindrom jajahan''. ''Warga di sini terkena sindrom jajahan, sehingga mereka malah bangga jika dapat memakai bahasa lain selain Banyumasan. Dalam bahasa lain, warga sini sama saja dengan 'menampik dirinya sendiri' atau mengidentifikasi diri sebagai orang lain. Itu kan ironis dan memprihatinkan,'' tandasnya. Untuk menyelamatkan kondisi itu, uajar Tohari, langkah yang bisa dilakukan antara lain masyarakat Banyumas harus sadar bahwa bahasa Banyumasan merupakan aset sangat berharga bagi wilayah tersebut. ''Kalau Banyumas ingin membangun dengan dasar budaya sendiri, harus secara bersama-sama membangun pikiran guna melestarikan bahasa ini. Bahasa Banyumasan sebenarnya sangat cocok dengan alam demokrasi seperti budaya cablaka (terus-terang) dan egaliter,'' kata Tohari. Dalam pandangan Fathur, bahasa lokal sebenarnya masih bernilai strategis. Sebab dalam komunikasi internal di masyarakatnya (Jawa), seperti bahasa Banyumasan masih bisa dipakai sebagai bahasa pergaulan atau ''bahasa rakyat''. Bahasa lokal juga bisa sebagai lambang identitas daerah. ''Bahasa Banyumasan masih bisa dipakai sebagai alat transformasi nilai-nilai masyarakat Banyumas. Untuk situasi informal bahasa lokal juga masih berfungsi. Karena itu harus terus dilestarikan dan harus mendapat dukungan dari semua pihak,'' ujarnya. (G22-20s) |