logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 15 April 2005 KEDU & DIY
Line

Mi ''Lethek'' Bertahan sejak Zaman Jepang

BAGI orang Jawa Tengah, lethek berarti kotor. Apa pun yang diikuti kata itu, orang akan beranggapan jorok dan kotor. Namun kekotoran tidak selamanya berkonotasi negatif atau menjijikkan. Seperti bakmi lethek dari Bantul yang kendati warnanya kotor, buram tetapi sangat melegenda.

''Mi ini memang terkenal dengan sebutan lethek sejak zaman dulu. Meski ada nama mereknya tapi simbah-simbah dulu lebih senang menyebutnya mi lethek sebab warnanya memang keruh,'' seloroh Ferry, cucu pendiri mi dengan merek Garuda tersebut di rumah yang sekaligus pabriknya, Desa Bendo, Trimurti, Srandakan, Bantul.

Dia tidak ingat kapan tepatnya pabrik dengan izin HO Revolusi itu didirikan kakeknya, Abah Umar. Namun dari cerita para kerabat dan orang kampung, usaha mi itu dimulai sekitar 1940-an, terutama pada saat Jepang berada di Indonesia.

Konon, dulu pabrik itu begitu terkenal. Bukan hanya karena rasa mi yang khas tetapi juga proses pembuatannya. Sejak pertama berdiri sampai sekarang, penggilingan tepung masih menggunakan bantuan sapi. Hewan memamah biak tersebut menarik sebuah batu seberat satu ton yang digunakan untuk menggiling mi.

''Batu ini juga peninggalan Abah Umar, ada beberapa tapi yang lain sudah aus jadi tinggal satu ini saja,'' ujar Ferry. Darimana dan bagaimana cara membuat batu melingkar itu, dia tidak tahu. Begitu pula para pekerja di sana, semua hanya tahu kalau itu peninggalan Abah.

Kayu Balok

Peninggalan lain yang masih digunakan sampai sekarang adalah alat bernama tarikan. Terbuat dari kayu balok besar berdiameter sekitar 40 cm. Adonan yang sudah matang disaring menjadi mi dengan alat tersebut. Lantas bagaimana caranya?

Tepung gilingan setelah di oven beberapa jam, kemudian dimasukkan dalam sebuah lobang di tengah-tengah balok selebar piring makan. Di dasar lobang terdapat saringan. Lima pekerja menekan lobang juga dengan bantuan balok agar mi keluar dari saringan.

''Aneh ya...tapi beginilah cara mi tradisional dibuat. Alat ini sudah ada sejak dulu, juga hanya beberapa bagian yang diganti karena termakan usia,'' tutur Ferry.

Sejauh ini, dia belum berpikir untuk mengganti peralatan tradisional dengan mesin. Sebab harga mesin sangat mahal, sementara untuk mencari bantuan kredit ke bank sangat susah. Beberapa kali dia pernah mengajukan permohonan meminjam dana, namun belum ada yang berhasil.

''Ya sudah, memakai alat tradisional juga nggak apa-apa. Apalagi dengan alat-alat ini banyak masyarakat kampung terlibat dalam proses pembuatan, lumayanlah bisa mengurangi pengangguran.''

Mi lethek buatannya memang khas dan tidak berwarna kuning seperti pada umumnya, tetapi putih keruh. Kendati demikian, pada hari-hari tertentu menjelang 1 Sura atau hari besar lain, para bakul berdatangan untuk memesan mi.

Biasanya pada hari-hari itu mi lethek digunakan sebagai salah satu bahan makanan membuat sesaji atau kenduri. Penasaran dengan mi zaman Jepang? Datang saja ke Bendo. (Agung PW-76m)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA