| Selasa, 12 April 2005 | PANTURA |
Sekolah dari Gang Sempit Raih JuaraPESTA Pramuka Siaga 2005 tingkat Wilayah Pekalongan yang dipusatkan di kompleks Obyek Wisata Pantai Alam Indah Kota Tegal, Minggu sore (10/4) lalu berakhir. Kontingen Kota Tegal berhasil meraih juara umum. Sebab, dua barung (sebutan untuk regu siaga) yang mewakili, yakni Pramuka dari SD Muhammadiyah 2 (barung putra) dan SD Mangkukusuman 8 (barung putri), berhasil meraih juara I. Pramuka kedua SD itu selanjutnya mewakili eks Karesidenan Pekalongan untuk bertarung di tingkat Jawa Tengah. SD Mangkukusuman 8 memang pelanggan juara di berbagai bidang karena kebetulan SD itu hampir tak dipusingkan dengan masalah fasilitas. Namun SD Muhammadiyah 2 terbilang SD yang seolah tiba-tiba saja mencuat. Itu wajar, sebab melihat lokasinya saja SD tersebut berada di sebuah gang sempit, yakni di Jl Mawar No 12 Gang 2 Kelurahan Kejambon Kecamatan Tegal Timur Kota Tegal (Kampung Cepaka) Muridnya yang berjumlah 111 anak kebanyakan orang tuanya bekerja sebagai buruh. Maklum, kompleks SD itu dikenal sebagai daerah zona industri kecil logam. Meski begitu, baik orang tua murid, guru, pembina pramuka, maupun murid memiliki semangat lebih untuk mengukir prestasi. Menurut Kepala SD Muhammadiyah 2 Ny Hetty Kuniarsih, kemarin, sejak SD-nya mampu meraih Juara I Pesta Siaga tingkat kecamatan, segala komponen yang ada di SD itu diberdayakan. Untuk lebih menumbuhkan keyakinan meraih juara, SD itu tak lupa memanggil pembina dari luar. Misalnya untuk mematangkan anak di bidang musik dan gerak lagu, dipanggillah Andri. Untuk mengenal tokoh wayang, SD itu memanggil dalang Ki Agus Suprin. Dua pembina pramuka, yakni Erlis Susanti dan Suleman, dibantu tujuh guru lainnya, terus mengenjot regu SD itu tiap hari pada pukul 11.00-13.00. Untuk melatih ketangkasan melempar bola, kata Hetty Kuniarsih, pembina sengaja menggelar latihan di Stadion Yos Sudarso yang banyak anginnya. 'Kenapa, karena PAI kan pantai, sehingga terpaan anginnya kencang. Agar bola tenis yang dilempar ke tempat pelemparan bisa masuk, anak harus dibiasakan mengenal arah dan kencangnya angin. Alhamndulillah, pada bidang ketengkasan lempar bola kami meraih poin 100,' tutur Hetty. Partisipasi Suami Karena keterbatasan dana, untuk mendapatkan bola tenis, Hetty Kuniarsih meminta partisipasi suaminya, Dahrian Abdul Syukur, untuk meminta bola tenis bekas pakai ke Pemkot. 'Meski swadaya dari orang tua murid sangat minim, mereka memberi doa sehingga kami bisa meraih juara,' ujar Hetty. Hetty Kuniarsih menyadari, banyak SD di Kecamatan Tegal Timur yang favorit. Untuk menandingi secara akademis, rasanya masih sulit. Untuk itulah, segala komponen bersepakat untuk mencuri prestasi di bidang lain, khususnya kepramukaan. Dia mengakui, dalam lomba mata pelajaran IPS, muridnya, Gilar Riski, mampu meraih juara II tingkat Kota Tegal, sedangkan Fadil meraih juara II mata pelajaran Agama. Lulusan SD ini juga banyak yang diterima di SMP favorit. 'Anehnya, lulusan SD kami banyak yang enggan melanjutkann sekolah di SMP Muhammdiyah. Mereka maunya masuk ke SMP negeri. Saya tak tahu persis penyebabnya,' tuturnya. Kini, kata Hetty, pihaknya harus mempersiapkan diri untuk menghadapi Pesta Siaga Jateng yang diperkirakan akan diadakan pada Mei mendatang. (Nuryanto Aji-34n) |