| Selasa, 12 April 2005 | MURIA |
Di Balik Keceriaan Anak di Kepulauan Karimunjawa (1)Mereka ''Lebih Suka'' Memancing Ketimbang Sekolah?Kecamatan Kepulauan Karimunjawa terdiri atas puluhan pulau-pulau kecil. Namun hanya ada lima pulau yang berpenghuni, yaitu Pulau Karimunjawa, Pulau Genting, Pulau Kemojan, Pulau Parang, dan Pulau Nyamuk. Secara administratif, penduduk Pulau Genting ikut Desa Karimunjawa, sedangkan Pulau Nyamuk ikut Desa Parang. Hanya Pulau Parang yang berdiri sendiri sebagai satu desa. Berikut laporan singkat wartawan Suara Merdeka Muhammadun Sanomae mengenai kehidupan anak di pulau dengan luas daratan 1507,70 ha dan perairan 110.117,30 ha itu. TIGA anak, pagi itu menggulung senar kail di sebuah perahu kayu dekat dermaga Pulau Karimunjawa. Umur mereka tak lebih dari 13 tahun. Ceria benar wajah mereka. Berbeda dengan anak-anak yang biasa hidup di tengah keramaian kota yang berkesan cuek, mereka begitu ramah kepada orang yang mengunjungi pulaunya. Tatapannya juga sedemikian bersahabat, seakan ingin bertumpah rasa dengan pengunjung yang menyapanya. Sebagai tuan rumah, mereka sepertinya tahu, jangan sampai orang yang datang di kampungnya kecewa. Sepintas, serasa ikut bahagia melihat senyum dan gelak tawa anak-anak pagi itu. ''Tidak sekolah? tanya Suara Merdeka iseng kepada Adi, salah seorang dari ketiganya. ''Sudah lulus, Mas,'' jawab dia ramah sambil menjelaskan bahwa ia lulus sekolah dasar setahun lalu. ''Tidak melanjutkan ke SMP,'' tanya Suara Merdeka kembali. Adi hanya diam sambil menggelengkan kepala. Barangkali merasa ''dihakimi'' atau malu dengan pertanyaan kedua itu, ia memilih menyibukkan diri dengan kailnya. Adi adalah satu potret yang menurut Hisyam, Kepala Madrasah Aliyah (MA) Safinatul Huda Desa Kemojan sebagai ''generasi tersisa'' yang perlu dipikirkan stakeholder pendidikan. Adi, tak melanjutkan sekolah meski di desanya, Karimunjawa, ada SMP dan ada pula madrasah tsanawiyah (MTs) di Desa Kemojan, desa tetangga Karimunjawa. Hal yang sama juga menimpa anak-anak di Pulau Genting, sekitar 3 jam perjalanan dari Pulau Karimunjawa menggunakan perahu mesin nelayan. Di Pulau berpenduduk 85 keluarga yang terbagi dalam dua RT itu terdapat sebuah SD dengan jumlah guru empat orang. Ada sekitar 50 anak SD di pulau yang kaya hasil kelapa itu. ''Banyak anak-anak yang lulus SD yang tak mau melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya. Mereka lebih memilih ikut bapaknya menjaring dan memancing ikan di laut,'' tutur Muntaha, salah seorang Ketua RT di Pulau Genting. Ia yang juga nelayan itu menuturkan, ada sekitar 10 anak di pulau itu yang melanjutkan mengaji di Jepara setelah lulus SD. Selebihnya, mereka berlayar mencari ikan. Memang ada satu anak laki-laki yang sekolah sampai jenjang MA di Jepara, dan dua anak perempuan yang saat ini melanjutkan sekolah di MA Matholiul Falah, Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso, Pati. ''Kalau harus sekolah di SMP Karimunjawa, jarak antarpulau cukup jauh. Butuh biaya transportasi yang tak sedikit. Lagi pula anak-anak di sini enggan harus tinggal di asrama SMP Karimunjawa. Anak-anak benar-benar terisolasi,'' tambah Muntaha yang juga menyangsikan semangat para orang tua untuk menyekolahkan anaknya ke jenjang SMP. Musdi (60), seorang tokoh masyarakat, melalui forum pengajian berkali-kali mengimbau para orang tua untuk bersemangat menyekolahkan anaknya. ''Banyak orang tua di sini mikirnya cekak (pendek). Jadinya, anak-anak ikut ketularan,'' kata dia prihatin. Kalau harus menyalahkan anak, tak tepat. ''Kalau lulus SD nanti aku kepingin sekolah sampai besar,'' cetus Nurul Nafiah (9), kelas III SD. Penuturan putri dari Mat Agus Supraman (45) itu adalah bukti masih ada anak di pulau berpasir putih tersebut yang memendam spirit untuk sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Memang tak semuanya seperti Nurul. Afif (11), siswa kelas V SD, hanya memilih ikut memancing ikan bersama bapaknya jika lulus kelak. ''Aku pingin seperti Bapak,'' tuturnya polos. Melihat kenyataan tersebut, perlu diteliti lagi, apakah mereka benar-benar ''lebih suka'' memancing ikan ketimbang sekolah atau ''terpaksa suka'' setelah melihat kondisi kompleks lingkungan mereka. Pemkab Jepara bersama Balai Taman Nasinal (BTN) Karimunjawa pada 2004 lalu melakukan kajian zonasi di setiap gugusan kepulauan itu. Aspek biofisik, sosial ekonomi, berikut kebijakan pengelolaan tercover dalam zonasi yang diproyeksikan untuk kelestarian alam. Suara masyarakat mengemuka saat dialog di ruang Setda awal 2005. ''Jangan lupakan SDM jika tidak ingin Karimunjawa luluh lantak, dan zonasi menjadi sia-sia!'' (Bersambung-90n) |