logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 12 April 2005 SEMARANG
Line

Cinta Bersemi di Semarang Hash

He's true blue, he's a hasher thru' and thru'. He's a hasher so they say and he'll never go to heaven in a long, long away so drink it down, down, down,.....

BEGITU lirik lagu tersebut dinyanyikan bersama-sama anggota Hash House Harriers Cabang Semarang yang terkena hukuman. Hukuman tersebut berupa keharusan minum habis bir atau soft drink lain yang disediakan panitia.

Bisa jadi, hukuman tersebut sekadar bagian dari ungkapan kegembiraan mereka yang tengah merayakan ulang tahun Perkumpulan Semarang Hash House Harriers (SHHH) Ke-25. Hukuman yang biasanya diadakan setelah mereka melakukan cross country (lari lintas alam) terkesan mencari 'aib' anggotanya itu sengaja diciptakan sang pemandu acara. Hal itu dilakukan dengan cara menyenangkan untuk memeriahkan suasana.

Tak hanya anggota saja, para visiter termasuk wartawan Suara Merdeka yang meliput acara itu, tak luput ''dikerjai'' dan dipaksa memilih minum soft drink atau bir dalam gelas besar.

''Kalau nggak habis harus disiramkan di kepala,'' ucap Frans Beer si pemandu acara yang tampil kocak dalam bahasa Inggris.

Bagi banyak orang, hash house harries belumlah nama yang begitu familiar. Namun demikian, perkumpulan tersebut ternyata sudah mempunyai cabang yang tersebar di seluruh dunia.

Di Indonesia sendiri, perkembangan klub tersebut dapat dikatakan pesat. ''Jumlahnya mencapai ratusan,'' ujar Alex Bale, seorang tutor asal Inggris yang mengajar di salah satu tempat kursus bahasa Inggris di Semarang.

Alex hanyalah salah seorang dari sekian banyak orang kulit putih anggota kelompok tersebut. Bagi pengunjung baru yang datang ke Patra Jasa Java Coffee Plantation Ungaran Minggu (10/4) siang itu mungkin akan bertanya-tanya, mengapa banyak orang bule di tempat itu?

Belakangan diketahui mereka adalah sekumpulan pencinta olahraga lari lintas alam yang berasal dari berbagai negara seperti Jerman, Belanda, Inggris, Austria, Denmark, dan Indonesia sendiri.

Kegiatan rutin yang biasa mereka lakukan setiap Sabtu yakni lari atau jalan kaki melintasi hutan, sawah di sekitar Semarang dan daerah-daerah lain di wilayah Provinsi Jateng.

''Tadi saya lari selama dua jam melintasi hutan, it was beautiful,'' ujar Rob van Raaij asal Belanda.

Kepada Suara Merdeka, Rob yang sudah 1,5 tahun di sini mengatakan Indonesia adalah negara terunik yang pernah ditinggalinya.

Ajang Sosialisasi

Selain berolahraga, perkumpulan tersebut ternyata juga digunakan sebagai ajang sosialisasi bagi sebagian pekerja asing yang bermukim di Semarang.

Hasil sosialisasi tersebut ternyata berbuah manis. Betapa tidak? Pertemanan di klub tersebut tidak jarang berlanjut ke tingkat ''cinta''. Banyak pribumi yang menemukan soulmate atau belahan jiwanya di tempat itu.

Kokoh Iskandar (59) anggota asal Bukit Sari Semarang itu mengungkapkan, tidak sedikit wanita Indonesia yang berjodoh dengan warga negara asing.

''Yang itu (sambil menunjuk gadis kecil) hasil perkawinan Indonesia dengan Denmark,'' tutur anggota yang telah 12 tahun ikut perkumpulan tersebut.

Tidak hanya dengan pria Denmark, wanita pribumi negeri ini ada juga yang merajut benang asmara dengan pria Amerika, Irlandia, Inggris, dan lain-lain.

Dia menyatakan senang bergabung dengan klub tersebut karena menemukan kebahagiaan selain olahraga.

''Ini sudah putaran ke-1.607 kali berlari sejak perkumpulan ini didirikan. Berlari di alam tidak menjenuhkan meski setiap mengikuti acara membayar iuran Rp 10 ribu/orang,'' tuturnya.

Meski klub ini bukan badan amal, namun kepedulian terhadap sesama tetap ditunjukkan dengan memberikan bantuan kepada korban bencana alam tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam beberapa waktu lalu. (Ida Nursanti dan Rony Yuwono-91)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA