logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 10 April 2005 OLAHRAGA
Line

Ditawari Bonus Rp 15 Juta Per Emas

HANYA sebatas untuk kepentingan Porda Jabar, perenang andalan Jateng Donny Budiarto Utomo mendapat tawaran yang lumayan menggiurkan dari Kabupaten Bogor. Setiap bulan, dia dijanjikan gaji Rp 6 juta plus Rp 15 juta untuk setiap keping emas yang diraihnya dalam Porda Jabar, Juli 2006 di Kabupaten Karawang. Padahal perenang terbaik pilihan Siwo PWI Jateng tahun 2003 ini diperkirakan sedikitnya bisa meraih lima medali emas, bahkan lebih, karena saingannya hanya atlet - atlet kelas daerah.

"Untuk kepentingan Porda Jabar, Kota Cirebon juga menawari Donny bonus yang sama. Tetapi masalah gaji bulanan Kabupaten Bogor lebih baik, sehingga dia lebih tertarik dengan tawaran Bogor," jelas Hartadi Nurjojo SE, pelatih Donny di klub renang Tri Cakti Semesta (TCS) Semarang.

Satu - satunya peraih medali emas dari cabang renang SEA Games XXII Vietnam 2003 ini mengatakan sangat berminat dengan tawaran itu. Pertimbangannya, dia berpeluang merebut lima emas dari gaya kupu-kupu 100 meter, 200 meter, dan gaya bebas 400, 800 dan 1.500 meter.

Pertimbangan lain setelah memperkuat Bogor, perenang asal Purwokerto ini bisa kembali lagi ke Jateng untuk mengikuti persiapan babak kualifikasi PON XVII Kaltim, yang diperkirakan berlangsung awal tahun 2007. Aturan PB PON, seorang atlet bisa memperkuat daerahnya setelah menetap dua tahun berturut-turut sebelum PON dimulai. PON XVII Kaltim dimulai September 2008, sehingga jika Donny bisa kembali ke Jateng bulan Juli atau Agustus, tidak ada masalah lagi.

"Teorinya memang seperti itu. Pada September 2008 PON Kaltim dimulai, sehingga masih memungkinkan Donny kembali ke Jateng. Tapi langkah semacam itu sangat riskan, Jabar pasti tidak sebodoh itu. Bisa jadi saat Donny akan kembali ke Jateng nanti dipersulit," tandas Hartadi.

Richard Sam Bera

Hartadi mencontohkan kasus dua perenang asal DKI Jakarta, Richard Sam Bera dan Wirmandi Sugriat, menjelang PON XIII Jakarta. Pada tahun 1993, dua perenang terbaik nasional itu resmi hijrah ke Jateng. Tetapi kenyataannya, saat PON XIII September tahun 1993 dimulai, dua perenang itu tidak bisa tampil karena "digantung" oleh PB PRSI, setelah menjadi rebutan antara DKI dan Jateng.

"Saya takut kejadian itu terulang. Sebagai pimpinan klub, saya tidak bisa mengabulkan keinginan Donny. Karena itu, masalah ini kami limpahkan ke KONI Jateng."

Menurut Donny, sebenarnya tidak ada masalah dengan tawaran tersebut, karena apa yang disodorkan Kabupaten Bogor hanya sebatas persiapan sampai Porda dimulai. Setelah Porda selesai dirinya diperbolehkan kembali ke Jateng.

"Perjanjian hanya berlaku sampai Porda selesai, setelah itu saya bisa kembali ke Jateng. Yang dikhawatirkan oleh Jateng adalah kalau PON Kaltim dimajukan sehingga saya akan terkena aturan dua tahun tersebut," ujar Donny seusai menghadap Waka Binpres KONI Jateng Erry Sadewo, Jumat (8/4) lalu.

Sementara itu Erry Sadewo menjelaskan sudah tidak ada masalah lagi, setelah mereka berdua bicara dari hati ke hati. "Kami juga memaklumi kalau Donny punya niat seperti, karena setiap manusia butuh kehidupan yang lebih baik," jelasnya. Mantan karateka nasional itu menyadari kalau atlet berprestasi butuh penghargaan dan kesejahteraan yang berbentuk materi, beda dengan dirinya sewaktu masih menjadi atlet sekitar tahun 1973-1980. (Mundaru Karya-77)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA