| Minggu, 10 April 2005 | OLAHRAGA |
Membaui Aroma LiverpoolOleh: Amir Machmud NSMUDAH-MUDAHAN dugaan ini salah: dahulu, ketika Juventus mengalahkan Liverpool dalam partai pamungkas Piala Champions pada 29 Mei 1985, tidak sedikit yang menyimpulkannya sebagai kemenangan diplomatik pelipur lara atas jatuhnya begitu banyak korban tifosi Juventus. Liverpool yang terpukul oleh ulah suporternya sudah tidak lagi bermain dengan hati penuh di Stadion Heysel, Brussels, Belgia. Tetapi saya yakin masalahnya bukan pelipur lara itu. Kedua tim jelas sama-sama terpukul. Michel Platini, Zbigniew Boniek, Paolo Rossi, Stefano Tacconi, Marco Tardelli dan seluruh punggawa the Juve bermain dalam suasana serbakalut. Atmosfernya sangatlah mencekam. Walaupun saat bola bergulir jumlah korban belum ketahuan, aroma kompetisi di tengah lapangan sudah kurang gereget. Para pemain Liverpool juga seperti kehilangan gairah - yang sering dilabeli sebagai fanatisme paling gila di dunia. Bruce Grobbelaar kehilangan naluri lawakannya, jagoan-jagoan seperti Kenny Dalglish, Phil Neal, dan Gillespie juga tidak bermain dengan touch mereka. Hasil akhir final paling mengerikan sepanjang sejarah Piala Eropa itu lebih menggambarkan sebuah formalitas! Dan baru 20 tahun kemudian, perempatfinal Liga Champions mengetengahkan pertarungan yang sesungguhnya. Kehadiran Juventus ke Stadion Anfield Selasa lalu bukanlah ''silaturahmi'' untuk merekonsiliasi luka lama. Liverpool tidak lagi terbalut sejarah untuk berdiplomasi, karena kedua tim sama-sama membawa misi pemenangan vital bagi kepentingan industrial mereka. Steven Gerrard dkk membutuhkan langkah lanjut untuk mempertahankan eksistensi Inggris di semifinal, di samping Chelsea. Hanya dari ajang inilah pasukan Rafael Benitez masih bisa berharap gelar, lantaran di ajang yang lain peluang mereka sudah terkubur. Bagi Juventus, pertemuan selepas Tragedi Heysel 1985 juga penting secara psikologis. Bagaimanapun, itulah dedikasi penting mereka untuk keluarga korban Heysel. Performa Juventus tidaklah terlalu jelek, sehingga optimisme tetap layak digaungkan di laga kedua. Namun determinasi Liverpool malam itu memang jarang diperlihatkan di liga domestik. Persoalannya, mampukah mereka mengalahkan inkonsistensi mereka sendiri? * * * HASIL-HASIL putaran pertama perempatfinal cukup memberi gambaran tim mana yang bakal lolos, kendati klaim kepastian tiket masih terlalu dini. Liverpool membutuhkan lebih banyak suntikan moral untuk mengatasi kecenderungan inkonsistensinya, karena skor 2-1 di Anfield jelas masih rawan ketika bertandang ke Delle Alpi di Torino. Begitu juga Lyon - PSV Eindhoven yang mengakhiri pertandingan dengan angka 1-1. Chelsea dan AC Milan sudah mendepositokan ketenangan menuju laga kedua lewat kemenangan cukup meyakinkan. Skor 4-2 jelas sangat menguntungkan ketika John Terry dkk bertamu ke kandang Bayern Muenchen, begitu juga AC Milan - yang belakangan menunjukkan ''staying power'' kuat - tinggal mempertahankan agar kemenangan 2-0 tidak dikacaukan oleh tekad pembuktian Inter Milan. Kalau gambaran ini yang terjadi, Chelsea dan AC Milan sudah mem-booking dua tempat di semifinal. Dengan menghitung peluang dua tim lain, akankah tercipta semifinal ideal? Ketidakhadiran wakil Spanyol yang habis di perdelapan final memang mengurangi kehirukpikukan perempatfinal. Tetapi inilah pilihan yang mesti tersaji dari sebuah kompetisi, dan hasil-hasil yang makin mengerucut ke percaturan akhir harus kita hargai sebagai konsekuensi pertarungan. Trek juara memang telah diretas oleh tim-tim unggulan macam Chelsea, AC Milan, Juventus, atau Bayern Muenchen, walaupun ketersisihan klub-klub besar macam Manchester United, Barcelona, Real Madrid, dan Arsenal barang tentu sedikit mengurangi ''keramaian''. Namun bukankah tidak mungkin semuanya akan berjejal, sementara perempatfinal hanya menyediakan delapan tempat? Maka siapa mampu melewati hadangan demi hadangan itulah yang sebenarnya teruji, tak peduli itu tim unggulan atau bukan. Dua tim yang mulanya menarik untuk diberi perhatian khusus adalah Liverpool dan Inter Milan. Keduanya sama-sama sudah lama tidak memperlihatkan power di percaturan atas Eropa, bahkan di liga domestik pun - dengan modal rekrutmen yang termasuk mahal dan besar-besaran - Liverpool dan Inter selalu kehilangan momentum bersaing merebut gelar dalam beberapa musim kompetisi terakhir. Padahal the Reds maupun Nerrazuri memiliki materi pemain yang patut disebut di atas rata-rata. Melihat posisi kedua tim ini di laga pertama, perjuangan Inter bakal lebih berat, tetapi beban Liverpool juga tidak kalah mengerikan hanya dengan bekal kemenangan 2-1. Orang mungkin menunjuk Chelsea, dengan dana yang seolah-olah tak terbatas dan sosok pelatih jenius Jose Mourinho, paling pantas merajai Eropa tahun ini. Agresivitas dan produktivitas ketika membantai Bayern Muenchen memberi gambaran kekuatan the Blues saat ini. Ada momentum kuat untuk menapak ke sejarah Eropa. Tetapi saya juga membaui aroma Liverpool untuk menciptakan lompatan penting kalau mereka mampu mempertahankan keunggulan atas Juventus di laga kedua nanti. Kalaupun aroma itu lebih bertekanan romantisme, apa salahnya Liga Champions dipenuhi kejutan demi kejutan, seperti ketika tahun lalu FC Porto justru melejit di antara kepungan para raksasa? Bagi para pemuja calon semifinalis non-Liverpool, tak perlu cepat marah. Bukankah ini juga sekadar romantisme? (59) |