logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 10 April 2005 NASIONAL
Line

Bisnis Pondokan, Sumber PAD yang Belum Dimanfaatkan

SALATIGA sejak lama dikenal dengan sebutan Kota Pendidikan. Daerah ini merupakan salah satu tujuan belajar para mahasiswa yang datang dari seluruh Tanah Air. Tidak heran apabila Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga yang menjadi simbol pendidikan di kota ini, disebut juga sebagai Indonesia Mini.

Kehadiran ribuan mahasiswa dari luar Salatiga juga mendongkrak perekonomian warga, khususnya warga di wilayah Kecamatan Sidorejo, Tingkir, dan Sidomukti yang menjadi sentra kos-kosan. Apabila libur kuliah, maka ''matilah'' kota ini, dan menyusut pula peredaran uang di daerah tersebut.

Bagi Pemkot Salatiga, bisnis rumah pondokan merupakan salah satu pilar potensi pendapatan asli daerah (PAD) yang bisa dimanfaatkan. Sayangnya, dalam kenyataan di lapangan, pilar tersebut belum sepenuhnya dapat dimanfaatkan.

Masih Tradisional

Umumnya, rumah pondokan masih dikelola secara tradisional oleh beberapa keluarga yang memiliki rumah atau lahan di sekitar kampus. Dengan memanfaatkan sisa tanah, pemilik rumah dapat menambah dua atau tiga kamar yang dipakai sebagai ruang kos.

Ny Murti (55), pemilik rumah kos di Jalan Kemiri Raya Salatiga, mengaku sudah sekitar 25 tahun mengelola rumah kos. Kamar yang disediakan bagi mahasiswa putri tersebut hanya delapan ruang. Tetapi mahasiswa yang memanfaatkan rumah kosnya berjumlah 11 orang dari berbagai fakultas di UKSW.

Dari delapan kamar yang dimilikinya itu, tiga kamar masing-masing ditempati dua mahasiswa dengan biaya kos masing-masing mahasiswa Rp 90.000/bulan. Jika satu kamar diisi seorang mahasiswa saja, maka biaya per kamar Rp 125 ribu/bulan.

Bisnis kos-kosan di Salatiga memang sangat menggiurkan. Tidak heran jika kalangan berduit, termasuk dari luar kota, pun banyak membangun pondokan. Tentu ukuran rumah, luas kamar, dan jumlah kamarnya jauh berbeda dari rumah yang dibangun sebagian besar penduduk asli. Mereka biasanya membeli lahan kosong di dekat kampus.

Melihat kondisi fisik bangunannya, dipastikan investasi rumah pondokan itu bernilai ratusan juta rupiah. Jika satu rumah terdiri atas 20 kamar, dan uang sewa sebesar Rp 500 ribu/bulan, dalam setahun saja pemilik sudah memperoleh Rp 120 juta. Bisa dipastikan, mulai tahun kedua mereka sudah memanen rupiah dari kantung para mahasiswa.

Manajemen yang diterapkan para pemilik pondokan modern juga relatif bagus. Dalam hal ini, pemilik tidak terlibat langsung dalam pengelolaan. Mereka menyerahkannya kepada orang yang yang dibayar dan harus menginap di pondokan tersebut. Sedangkan pemiliknya tidak menempati rumah tersebut, sehingga tetap leluasa menjalankan bisnisnya yang lain. (48)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA