logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 10 April 2005 NASIONAL
Line

Jayalah UKM-Koperasi

PADA 21 Juni 2004, Salatiga menerima penghargaan Satya Lencana Wira Karya dari Presiden RI, atas keberhasilan dalam pembinaan koperasi. Hingga tahun lalu, di Salatiga terdapat 146 koperasi/KUD, masing-masing bergerak di bidang jasa keuangan (90), waserda (28), usaha fotokopi (7), wartel (5), inkra (4), senkuko (3), perlistrikan (3), pengadaan susu (2), pengadaan pangan, pengadaan kedelai, swalayan, dan angkutan (1).

Volume usaha atau pendapatan selama setahun mencapai sekitar Rp 54 miliar. Ini bukan jumlah yang kecil dan bisa disejajarkan dengan masuknya investasi skala besar. Bahkan, seperti terjadi di masa krisis, sektor koperasi justru lebih tahan banting ketimbang pengusaha besar.

Dalam era otonomi, kebanyakan daerah --apalagi daerah kota-- lebih memprioritaskan kapital-kapital besar. Tetapi tidak demikian di Salatiga. Pemkot tetap konsisten untuk menumbuhkembangkan koperasi sebagai sokoguru perekonomian nasional, setidaknya di Salatiga.

Selain koperasi, berbagai jenis usaha kecil dan menengah (UKM) pun tumbuh subur di kota ini. Sepanjang Jl Sadewa kini menjadi sentra industri kerajinan batu pahat, sedangkan sentra tempe serta tahu di Jl Imam Bonjol. Kelurahan Blotongan menjadi sentra kerajinan dari bahan ijuk, sementara Bugel, Kecandran, serta Karangpete menjadi sentra kerajinan sapu dan sikat.

Berbagai produk pakaian pun banyak berasal dari Salatiga. Misalnya celana hawaii, pakaian anak maupun dewasa, sprei, sarung bantal, dan guling. Yang memproduksi bukan pabrik besar, melainkan industri kecil di Kecamatan Tingkir.

Industri konveksi di kota ini memang cukup banyak, yakni sekitar 150 usaha, di mana masing-masing usaha dapat mempekerjakan 10-30 orang pegawai. Bayangkan, hanya melalui subsektor ini saja, nilai produksinya bisa mencapai Rp 6 miliar.

Ini pun belum mencakup industri pengolahan makanan seperti dendeng dan abon sapi, keripik paru, enting-enting gepuk, getuk, ampyang, dan sebagainya, yang tersebar di empat kecamatan yang ada.

Kepala Disperindag Ir Tri Susilo Budi sangat mengapresiasi tingginya semangat warga masyarakat dalam berusaha. Sebab dari tahun ke tahun selalu muncul industri baru yang kebanyakan dikembangkan sendiri oleh masyarakat. Tugas Pemkot hanya sekadar membina, mengarahkan, atau mencarikan peluang pasar sebagaimana dialami beberapa perajin mebel kayu.

Namun peluang di depan mata, berupa investasi baru, tetap tak dikesampingkan begitu saja. Apalagi Kota Salatiga sudah mengalami kemajuan pesat di sektor perdagangan dan jasa. Industri pengolahan pun kini cenderung mengalami peningkatan pesat.

Di bidang industri, Salatiga memiliki beberapa pabrik besar, seperti PT Damatex dan Timatex (tekstil), Mega Rubber (ban mobil), Globalindo (air kemasan), CV L'ambiance (mebel logam), Anugerah Timber (mebel kayu), dan sebagainya.

Produk mebel bahkan sudah diekspor sampai Australia, Arab, Eropa, Jepang, dan beberapa negara Asia lainnya. ''Disperindag sedang membangun jaringan baru dengan mengikuti pameran di luar kota dan luar provinsi. Kami juga bekerja sama dengan pihak-pihak lain yang kompeten,'' kata Tri Susilo Budi. (48)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA