logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 10 April 2005 NASIONAL
Line

Rumah-rumah Adat Nias (1)

Tak Satu pun Ambruk Diguncang Gempa


BERJEJER RAPI: Barisan rumah adat kecil (omohada) yang tidak ambruk membuktikan bahwa bangunan kuno warisan nenek moyang ini memang telah dirancang agar bisa tahan terhadap gempa. (83j) - SM/Agus Wahyudi

Kekukuhan bangunan tradisional di Nias, Sumatera Utara teruji saat gempa. Konstruksi pada sejumlah rumah adat tak tergoyahkan. Berikut laporan wartawan Suara Merdeka Agus Wahyudi yang selama sepekan di lokasi bencana.

KETIKA sebagian besar rumah warga di Kepulauan Nias, baik di Kabupaten Nias maupun Kabupaten Nias Selatan, goyah oleh guncangan gempa dengan kekuatan 8,7 skala Richter, Senin (28/3), ternyata masih ada kompleks bangunan yang tetap kukuh. Padahal, bangunan itu tergolong tua dan kondisinya juga tak sekukuh seperti bangunan dengan fondasi beton.

Ya, bangunan itu adalah rumah adat Nias di Desa Bawomataluo, Kecamatan Teluk Dalam, Kabupaten Nias Selatan. Dari ibu kota kabupaten, desa itu sekitar 10 km ke timur. Di wilayah tersebut ada 600-an rumah adat yang lazim disebut omohada (rumah kecil).

Rumah-rumah adat itu tak satu pun yang ambruk atau roboh. Hanya rumah adat omosebua (rumah adat besar) yang sedikit miring. Namun sekilas kalau kita lihat dari jauh, kemiringannya tak begitu terlihat.

Dua jenis rumah adat itu berada di atas bukit dengan ketinggian 100-an meter dari permukaan air laut itu. "Rumah warisan leluhur ini tak ada yang roboh, padahal getaran gempa juga sampai sini,'' tutur Tuho Jaro Jagete (45).

Yang menyebabkan bangunan itu tetap kukuh, kata warga, karena disangga dengan tiang-tiang bulat besar sebagai penyangga utama. Padahal, atapnya tinggi sehingga bebannya juga berat.

Tuho mengatakan, ketika gempa, rumah itu hanya bergoyang-goyang sejalan dengan getaran yang terjadi. Yang lebih hebatnya lagi, sebagaimana dituturkan Furti Wau (35), warga lain, barang-barang dalam rumah tidak ada yang jatuh. ''Perabot seperti piring, gelas, dan hiasan dinding tidak ada yang jatuh," ujar Furti..

Tiang-tiang rumah bentuknya saling silang yang berfungsi sebagai pegas. Ehumo (ting tegak) dan driwa (tiang miring) membuat rumah semakin kukuh. Tiang-tiang itu sebagian besar dari kayu bulat. Silete (balok di bawah lantai) bersusun rapat. Posisinya pun tak bergerser kendati hanya 10 cm. Sicheli (penyangga dinding), taiyo (dinding), dan sage (atap) yang menjulang tetap seperti semula.

Khazanah budaya nenek moyang ini yang semestinya harus dilirik untuk bisa diterapkan sekarang. Cuma bedanya harus diformulasi ulang. Ini juga seharusnya bisa menjadi referensi tambahan para arsitektur modern. Jika perlu, datang ke Desa Bawometaluo untuk belajar.

Ketangguhan arsitektur cipta karya warisan lelulur masyarakat Nias ini harus diakui lebih hebat dari rancangan modern. Sebab, sudah dirancang berdasarkan karakteristik alam dan lingkungan mereka. Dari catatan sejarah, kata warga, nenek moyang masyarakat Nias memang mendesain bangunan tinggal dengan rancangan antigempa. ''Kami baru membuktikan perkataan leluhur kami ya sekarang ini,'' ucap Karasi, warga lain.

Alasan mereka membangun rumah yang tampak rumit itu karena disesuaikan dengan fungsi dan karakter daerahnya. Nenek moyang masyarakat Nias sudah meyakini bahwa daerah mereka rawan gempa. Meski rumah mereka tak ada yang roboh saat gempa, warga tetap panik. Akan tetapi, kepanikan itu tak berlangsung lama seperti sejumlah desa lain yang sampai sekarang waswas atau bahkan sampai ada yang eksodus. Terbukti, setelah gempa aktivitas penikahan salah satu warga tetap dilaksanakan dan para tamu undangan juga tetap merasa tenang.

Rumah adat yang kini menjadi salah satu andalan objek wisata di Nias itu terbagi dalam dua kompleks. Bangunan utama (rumah besar) yang dahulu dihuni keturunan raja ada sekitar 200 rumah dengan posisi di atas. Sisanya lebih kurang 400 rumah lagi berdiri di sekilingnya (bawah).

Kompleks rumah adat ini menempati lahan sekitar empat hektare. Saat di atas, kita bisa melihat laut lepas Samudera Hindia yang menjadi pusat gempa di Kepuluan Nias dan Semeulue (Aceh). Untuk mencapai kompleks rumah besar, harus naik tangga 82 tingkat dari jalan raya (di bawahnya). Rumah-rumah itu saling berhadapan baik arah barat-timur maupun utara-selatan. Di antara rumah-rumah yang berhadapan terdapat halaman yang begitu luas yang untuk bermain, berkumpul, atau menjemur pakaian dan hasil bumi. (83j)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA