logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 10 April 2005 NASIONAL
Line

Presiden Langsung Rapat

  • Bahas Tabrakan Kapal

JAKARTA - KD Renchong, kapal perang milik Malaysia, bertabrakan dengan KRI Tedung Naga di perairan Karang Unarang, kawasan Blok Ambalat, Kalimantan Timur. Kedua kapal rusak. Atas kejadian itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono setiba di Tanah Air Sabtu (9/4) sore, setelah melakukan serangkaian kunjungan kenegaraan pada 3-9 April ke Australia, Selandia Baru, dan Timor Leste, segera mengadakan pertemuan dengan para menteri dan Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto.

Pesawat kepresidenan Garuda Boeing 737 tiba di Pangkalan Udara TNI AU Halim Perdanakusumah Jakarta pada pukul 17.06 atau dua jam lebih lama dari jadwal semula. Presiden Yudhoyono menjejakkan kakinya pada pukul 17.17, antara lain disambut Wapres Yusuf Kalla, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, dan tiga Kepala Staf TNI serta Gubernur DKI Sutiyoso. Setelah itu, Presiden bersama Wapres dan sejumlah menteri yang ikut rombongan, yakni Menko Polhukam Widodo AS, Mensesneg Yusril Ihza Mahendra, Menko Perekonomian Aburizal Bakrie, Menkeu Jusuf Anwar, Mendagri M Ma'ruf, dan Seskab Sudi Silalahi memasuki ruangan VVIP dan terlibat dalam perbicangan. Sebelumnya, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto sudah melaporkan kepada Presiden tentang tabrakan kapal tersebut.

Dalam kasus itu, Presiden meminta TNI Angkatan Laut (AL) agar peristiwa tabrakan antara kapal RI dan kapal patroli pemerintahan Kerajaan Malaysia tidak terulang sebagaimana yang terjadi di dekat Karang Unarang, perairan Ambalat. "Presiden minta agar tidak terjadi lagi. Kami sepakat menyelesaikan ini dengan sebaik-baiknya," ujar KSAL Laksamana Madya Slamet Soebijanto seusai mengikuti rapat singkat di VVIP Room Pangkalan Udara Halim Perdana Kusumah Jakarta, Sabtu.

Dia menyebutkan, kapal pemerintah kerajaan Malaysia terbuat dari baja dan berjenis patrol club (PC) dan memiliki persenjataan yang lebih baik dengan laras 40 milimeter. Sementara itu, kapal Indonesia hanya mempunyai senjata 12,7 milimeter. Menurut keterangan Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, kapal milik Pemerintah Indonesia tergolong kapal kecil yang terbuat dari fiber glass. Dia juga mengatakan, dalam tabrakan terjadi tiga kali benturan.

Saat ditanya, apakah pemerintah akan menyampaikan nota keberatan, KSAL menekankan, hal itu merupakan urusan setingkat menteri. Akan tetapi yang jelas, prajurit AL saat itu sedang melaksanakan tugas negara mengamankan wilayah perairan. Dia juga mengungkapkan, akan mengadakan pertemuan dengan KSAL Tentara Kerajaan Malaysia di Batam pada 15 April mendatang.

Tabrakan terjadi pada Jumat (8/4) pukul 06.55 hingga 07.30. Akibatnya, kapal perang Malaysia penyok di bagian haluan depan sedangkan KRI Tedung Naga rusak di lambung kiri. TNI AL menolak menyebut insiden itu sebagai tabrakan. "Nggak apa-apa, hanya senggolan saja, gesekan sedikit bukan tabrakan. Cuma lecet-lecet," kata Kepala Staf Gugus Tempur Laut Armada Timur Kolonel Marsetyo di Jakarta, Sabtu (9/4).

Menurut keterangan dia, insiden tersebut berawal saat KRI Tedung Naga yang berusaha menghalau KD Renchong yang menolak meninggalkan lokasi sekitar pembangunan mercusuar di perairan Karang Unarang. (ant,dtc-83j)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA