| Minggu, 10 April 2005 | NASIONAL |
Stan Kampanye Tampilkan Dara CantikISTILAH perang dingin barangkali pas untuk mengilustrasi persaingan antarcalon ketua umum PAN. Ketujuh kandidat itu saling beradu pesan di stan kampanye yang digelar di depan Hotel Patra, mulai Jumat kemarin. Suasananya, ada yang menilai seperti penjual obat saja. Tiap-tiap tim sukses menggelar stan dan menawarkan program-program kandidat yang mereka usung. Suasananya memang semarak. Di stan itu juga dilengkapi dengan pemasangan spanduk yang provokatif dan para tim sukses membagikan brosur kampanye calon ketua umum. Simak saja isi pesan spanduk Moeslim Abdurrahman yang berapi-api. Di atap stan, ada spanduk bertuliskan ''Moeslim Abdurrahman Intelektual Bersih dan Merakyat''. Spanduk itu barangkali kelanjutan moto para pendukung aktivis LSM itu yang gencar menyuarakan antipolitik uang. Entah sekadar kebetulan atau disengaja, spanduk itu benar-benar menggambarkan kondisi senyatanya di meja stan. Tidak ada brosur dan peranti kampanye lain, kecuali pesawat TV dan itu pun tidak menyala. ''Pak Moeslim ya memang kenyataannya begitu, seperti terlihat di stan, kan. Tidak kaya tapi bersih,'' komentar seorang pendukungnya. Stan Moeslim memang terbilang sepi. Hampir senasib dengan stan Samuel Kotto. Stan-stan lain lebih semarak dan ramai pengunjung, seperti stan Fuad Bawazier, Didik J Rachbini, Hatta Radjasa, Soetrisno Bachir, dan Afni Ahmad. Tiap stan menawarkan banyak peranti mulai brosur hingga buku. Bahkan, stan Soetrisno Bachir paling royal. Tidak cuma poster mini yang disebar, tim suksesnya pun menyediakan kenang-kenangan seperti buku agenda dan bolpoin. Stan ini paling ramai diserbu pengunjung. Penjaga stan ini juga paling atraktif. Dua atau empat penjaganya yang berparas jelita kabarnya direkrut dari sales rokok. Mereka sangat aktif mendatangi penggembira sembari menyebar brosur. Hampir semua stan memasang wanita muda berparas ayu untuk melayani atau bahkan merayu pengunjung. Kehadiran mereka memang menambah suasana kampanye dalam stan lebih semarak. Dan, kampanye lewat stan ternyata lebih seru dan sengit. Mereka membagikan brosur yang isinya tidak hanya memperkenalkan jati diri kandidat tetapi juga saling serang. Seperti buku Gelar Pencalonan Ketua Umum yang berisi tentang analisis tentang para calon. Namun, analisisnya sangat timpang. Ada calon yang dikupas dari segi positif tetapi calon lain ditelanjangi. Menurut penilaian Wakil Sekjen DPP PAN Alvin Lie, kampanye yang digelar lewat stan itu cukup menarik. Paling tidak merupakan upaya pendewasaan politik para kader. (Tim SM-33j) |