| Minggu, 10 April 2005 | NASIONAL |
Anggota Formatur Jateng DipermasalahkanSEMARANG - Pencalonan salah seorang anggota DPW Jateng sebagai formatur dalam Kongres dipermasalahkan. Puluhan aktivis pemuda PAN dari Barisan Muda (BM) PAN Solo dan Pemuda Amanat Nasional Rakyat Semesta (Panrasta) Solo mendesak Amien Rais untuk menggagalkan calon yang diduga terlibat korupsi tersebut. Mereka berunjuk rasa di lobi Hotel Patra Semarang, Sabtu kemarin. Aksi yang dilakukan di sela-sela keramaian kampanye para calon tersebut mengundang perhatian peserta kongres dan wartawan. Demonstrasi itu dijaga ketat aparat dan panitia. Sejumlah poster yang dibawa berisi kecaman terhadap kinerja partai yang meloloskan calon-calon, yang secara moral dinilai tidak bersih. Poster antara lain bertuliskan ''Awas Mafia Uang Palsu Ikut Calon Formatur'' dan ''Selidiki Mark Up Tanah dan Gedung DPW PAN Jateng''. Wakil Ketua BM PAN Solo A Farid Umar mengemukakan, pihaknya kecewa dengan keputusan tersebut. Namun, dia tidak bersedia menyebutkan siapa calon yang bermasalah tersebut. ''Orang itu terlibat uang palsu dan sekarang sedang dalam penanganan polisi. Tolong dicatat, jika ternyata dia terpilih, kami akan mundur dari PAN,'' tegasnya. Menurut keterangan dia, sedikitnya 50 anggota yang berkomitmen mundur itu juga terdiri atas beberapa anggota dari DPD-DPD di Jateng dan anggota DPW Jateng. Mereka menandaskan, tidak mendukung para calon dan menolak intervensi kandidat. Dua kandidat ketua umum PAN yang kebetulan lewat, Samuel Kotto dan Didik J Rachbini, turut berorasi. Dalam orasi itu, keduanya hanya meminta agar PAN menjadi partai yang bermoral baik. Dukung Hatta Sementara itu, ratusan orang yang mengaku dari sejumlah daerah juga berunjuk rasa. Mereka merasa kesal dengan upaya-upaya sejumlah pihak yang mengadang Hatta Radjasa dalam mencalonkan diri sebagai ketua umum. Aksi unjuk rasa berlangsung di depan stan promosi kandidat yang persis berhadapan dengan lobi Hotel Patra. Para pengunjuk rasa mengatakan, aksi protes terpaksa mereka lakukan setelah menemui Hatta Radjasa di Hotel Grand Candi. Pada pertemuan tersebut, mereka tetap meminta agar Hatta tidak mundur meski banyak tekanan dari berbagai pihak. Dari label jaket yang rata-rata mereka kenakan, para pengunjuk rasa itu berasal dari Sumatera Selatan, Papua, dan sebagian DPD dari Maluku. Seorang peserta yang ikut berbicara mengungkapkan, dia kesal dengan upaya berbagai pihak yang terus-menerus mengadang keinginan Hatta Radjasa untuk maju ke pencalonan dengan berbagai cara. Anggota DPR dari Jateng Alvin Lie turut berorasi. Dia menekankan, unjuk rasa itu dilakukan para peserta kongres yang sejak awal memberikan dukungan kepada Hatta Radjasa. Bahkan, untuk menegaskan dukungannya, sejumlah DPD telah mendatangi kamar hotel Hatta. ''Hatta Radjasa tidak akan mundur,'' teriak Alvin. Setelah mendengar pernyataan tersebut, para pengunjuk rasa membubarkan diri. (tim-43j) |