| Minggu, 10 April 2005 | NASIONAL |
"Surat Wasiat" Amien ke Bachir
SEMARANG- Pemilihan Ketua Umum DPP PAN periode 2005-2010 yang dijadwalkan semalam pukul 21.00 hingga pukul 24.00 ternyata molor. Hingga Sabtu tengah malam para peserta di ruang Poncowati Hotel Patra Semarang, baru melakukan sidang pleno III yang membahas pengesahan hasil-hasil sidang komisi. Sementara itu, di sela-sela peletakan batu pertama kampus Unimus di Kedungmundu, Amien mempertegas dukungannya pada Soetrisno Bachir sebagai ketua umum DPP. Bahkan, pengusaha asal Pekalongan itu masuk dalam ''surat wasiat'' Amien. Dua kandidat lain, yakni Hatta Radjasa dan Didik J Rachbini hingga semalam menyatakan tetap akan maju dalam pencalonan. Begitu juga dengan Fuad Bawazier, sampai kemarin masih akan maju memperebutkan kursi pucuk pimpinan di partai berlambang matahari bersinar tersebut. Fuad disebut-sebut menjadi pesaing kuat SB. Sampai pukul 22.45, sidang pleno III yang dipimpin Prof Askin baru menyelesaikan pengesahan hasil sidang dua komisi, yakni A (asas dan tafsir asas, platform, visi dan misi, garis perjuangan partai dan outline program kerja partai), serta B (AD/ART/struktur organisasi partai). Tiba pada pembahasan hasil sidang Komisi C tentang Tata Tertib Pemilihan Ketua Umum/Formatur dan anggota Formatur, pimpinan sidang akhirnya harus mengetuk palu untuk melakukan skorsing selama 15 menit. Skorsing dilakukan karena masih belum ada kesepakatan mengenai pengesahan hasil sidang Komisi C. Semula komisi C adalah membahas laporan pertanggungjawaban (LPj) DPP. Namun karena LPj sudah dianggap diterima pada sidang pleno II, Komisi C akhirnya membahas tata tertib. Ketika juru bicara Komisi C membacakan satu pasal, ada yang menyarankan agar pengesahan hasil sidang komisi yang akan melenggangkan Soetrisno Bachir dan Fuad Bawazier itu maju ke pencalonan ditunda. Alasannya, sesuai jadwal, tatib pemilihan ketua umum/formatur masuk dalam sidang pleno IV. Namun usulan itu memunculkan protes dari anggota Komisi C. ''Kami sudah tiga jam debat, bahkan ada isu yang dilontarkan salah satu kandidat ada money politics di komisi kami. Karena itu kami minta disahkan malam ini juga,'' kata K Harahap, peserta dari Sumut. Karena suasana semakin memanas dengan hujan interupsi antara peserta dengan beberapa orang yang duduk di kursi pimpinan sidang, Prof Askin akhirnya mengetuk palu skorsing. Dua Putaran Sementara itu, Didik J Rachbini menyatakan tetap akan maju dalam pencalonan. Kemungkinan bakal merapat ke SB cukup besar. Namun, dia meminta kompensasi untuk menempatkan orang-orangnya dalam struktur DPP. Belum diperoleh kepastian hasil dari pembicaraan tersebut. Didik menyatakan dari hasil komunikasi politik yang dilakukan timnya, mulai dari NAD sampai Lampung, Banten sampai Jatim, dan Kalimantan sampai Sulawesi, diperkirakan suara akan terpecah dalam enam calon. Dengan demikian tidak akan ada calon yang bisa mencapai 50% plus satu. Namun dia mengakui, dari timnya yang bergerak, calon mengerucut ke empat nama, yakni dirinya, Soetrisno Bachir, Fuad Bawazier, dan Hatta Radjasa. ''Namun ada kemungkinan salah satunya akan mundur, sehingga akan mengerucut lagi ke tiga orang.'' Dirinya yakin akan mendapat dukungan 30%-35% suara atau sekitar 178 DPD. Didik memerinci, dukungan itu sebanyak 57 DPD dari Sumatera yakni meliputi NAD, Sumut, Sumbar, Jambi, Kepulauan Riau (Kepri), Bangka Belitung (Babel), dan Lampung. Di Jawa ada 37 DPD meliputi Banten, DKI, Jabar, Jateng, dan Jatim. Sementara, Kalimantan ada 35 DPD, sedangkan Sulawesi 28 DPD yang meliputi Sulsel, Sulbar, Sulteng, Gorontalo, Sultra, dan Sulut. Selanjutnya dari NTT 3 DPD, NTB 4, Bali 3, Maluku 2, Maluku Utara 2, Papua 4, dan Irian Jaya Barat 3. Dia yakin pemilihan ketua umum/formatur tidak cukup satu putaran. Kemungkinannya, jika sampai dua putaran ada tiga alternatif yang lolos, yakni Soetrisno Bachir dan Fuad Bawazier, Sotrisno Bachir dengan dirinya, atau dirinya dengan Fuad Bawazier. Bakal calon lainnya, Fuad Bawazier juga optimistis meraih dukungan besar. Restui Bachir Soetrisno Bachir (SB) hampir dipastikan akan menjadi Ketua Umum DPP PAN menggantikan Amien Rais, apalagi di beberapa kesempatan, Amien terang-terangan menyebut SB sebagai orang yang paling tepat memimpin PAN. ''Saya ibarat sebagai bapak yang sudah berangkat tua memberikan surat wasiat, mengarahkan kepada hal-hal yang lebih bagus,'' katanya. Amien menyebut SB mempunyai sedikitnya lima kelebihan dibanding calon lain. ''Pak SB itu waktunya longgar, karena tidak punya banyak jabatan di eksekutif maupun legislatif,'' katanya. Sekitar pukul 22.00, lobi-lobi antarkandidat terus berlangsung. Sejumlah tokoh PAN seperti Amien Rais, Abdillah Toha, Bambang Soedibyo, Drajat Wibowo, Hatta Radjasa, dan Soetrisno Bachir melakukan pertemuan di kamar 601. Dalam pertemuan itu, Hatta belum memastikan untuk mundur dari pencalonan, mengingat banyaknya dukungan terhadapnya. Bukti lain adalah adanya aksi peserta kongres yang melakukan unjuk rasa di seputar arena, karena menolak penghadangan terhadap Hatta Radjasa. Hanya saja, sumber itu menolak menyebutkan apa tanggapan Amien Rais terhadap tekad Hatta Radjasa tersebut. Hatta juga masih mempertimbangkan kemungkinan mundur. (Tim SM-83) | ||||