logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 10 April 2005 BINCANG BINCANG
Line

Memancing di Teluk Meneliti di LIPI


SM/dok

PENELITI masih merupakan profesi yang belum banyak diminati di negeri ini. Namun Drs Syamsuddin Haris MSi, Ahli Peneliti Utama (APU) mengaku kalau dirinya memang mempersiapkan diri untuk terjun di dunia tersebut.

"Menjadi peneliti di LIPI merupakan suatu yang saya inginkan. Karena itu selepas meraih gelar sarjana saya mempersiapkan untuknya," kata pria kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat 9 Oktober 1957 ini.

Keinginan menjadi peneliti yang tumbuh saat menempuh kuliah di FISIP Universitas Nasional (Unas) Jakarta ini sangat jauh berbeda dari cita-cita pada masa kecilnya. Syamsuddin yang menghabiskan masa kecil dan remaja (SD sampai dengan SMP) di Bima, semula ingin menjadi insinyur sipil, karena profesi tersebut dinilai bergengsi dan sangat menjanjikan.

Dari kota kecil Bima, Syamsuddin pindah ke Jakarta pada 1973. Di kota inilah dirinya merasa punya kans lebih besar untuk mewujudkan cita-cita sebagai insinyur. "Jadi pilihan saya bukan masuk SMA tapi STM. Makanya begitu sampai Jakarta langsung ikut tes untuk masuk STM 5 Budi Utomo, tapi sayang gagal. Lalu saya banting setir masuk SMA, karena takut kehilangan waktu setahun bila tetap bertekad masuk STM tahun berikutnya," kata Kepala Bidang Politik Nasional Pusat Penelitian Politik (P2P) LIPI ini.

Karena masih berharap menjadi insinyur, di SMA dia mengambil jurusan IPA. Dia masih berharap bisa masuk Fakultas Teknik Sipil. Karena itu saat mengikuti tes SKALU, dia memilih Fakultas Teknik Universitas Indonesia pada pilihan pertama. Dan sayang lagi-lagi gagal.

Karena tidak diterima di UI, Syamsuddin melanjutkan kuliah di FESP (lalu berubah menjadi FISIP) Unas. Setelah kuliah di Unas barulah muncul keinginan menjadi peneliti. "Itu setelah saya sering mengikuti diskusi-diskusi dan pemaparan hasil penelitian ilmiah para peneliti. Ketika lulus, saya tidak melamar pekerjaan di bidang lain. Saya hanya jadi dosen di almamater sambil aktif di redaksi jurnal ilmu dan budaya sambil mempersiapkan tes yang diselengggarakan LIPI," kata Staf Pengajar Pasca Sarjana Universitas Indonesia dan Universitas Nasional tersebut.

Saksi Hidup Malari

Dari Bima yang masih sederhana Syamsuddin pindah ke Jakarta yang sangat maju dan bisa bersekolah di daerah Kota (Harmoni Jakarta Barat) pula. Karena itu dia mengalami berbagai peristiwa besar politik di negeri ini. Syamsuddin yang masih remaja juga sempat menyaksikan peristiwa Malari 1974.

"Saya melihat toko-toko di Pasar Senen dan mobil-mobil Jepang dibakar. Lalu saya berpikir ini perampokan besar-besaran atau apa ya... Baru beberapa waktu kemudian saya tahu ini peristiwa politik tingkat tinggi, karena waktu itu pemerintah kan mengekang pers," kata Ketua II Pengurus Pusat Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI) ini.

Sambil bekerja di LIPI, Syamsuddin mengambil gelar master di Universitas Indonesia. Setelah meraih gelar, dia disibukkan oleh kegiatan sebagai peneliti. Berbagai publikasi ilmiah dihasilkan, di antaranya Menggugat politik Orde Baru (1998), Menggugat Pemilu Orde Baru (1998) dan Reformasi Setengah Hati (1999), sampai-sampai banyak yang mengira kalau pria berkumis ini sudah meraih gelar doktor.

Menurut para kolega, banyak sekali undangan sebagai pembicara yang ditujukan kepada "Doktor Syamsuddin Haris". Namun hal itu justru menjadi dorongan untuk meraih gelar doktor. Dengan biaya sendiri -karena usianya sudah tidak masuk kategori penerima beasiswa- dia mengambil gelar doktor di UI.

Di LIPI, Syamsuddin berhasil menjadi Ahli Peneliti Utama bidang Perkembangan Politik Nasional dengan pangkat/Golongan Pembina Utama /IV E.

Saat ditanya apa hobinya selain membaca, dia menyebut memancing. "Tapi makin hari kesempatan untuk menyalurkan hobi kian susah dilakukan. Dulu waktu muda sering mancing di Cilincing di tengah laut Teluk Jakarta," kata pria yang beralamat di Bumi Satria Kencana Bekasi ini. (Hartono Harimurti-72)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA