logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 02 April 2005 PANTURA
Line

RSUD Kalisari Unggul dalam Pelayanan Diabetes dan Cuci Darah

GENDERANG untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat secara optimal sudah lama didengungkan RSUD Kalisari, Kabupaten Batang. Berbagai inovasi dilakukan agar menjadi rumah sakitnya wong Batang.

Bahkan, dalam perkembangannya kini melalui kerja sama para penyelenggara kesehatan, tenaga medis, para medis mulai dirasakan masyarakat.

RSUD Kalisari banyak didatangai pasien yang akan melakukan cuci darah (hemodialisa).

Keunggulan lain adalah layanan bagi penderita diabetes atau kencing manis.

''Di RSUD Kalisari ini sekarang sudah ada perkumpulan penderita diabetes yang tergabung dalam Persadia. Secara rutin, teman-teman sejawat di sini memberikan pembinaan sampai nasihat gizi yang harus dikonsumsi penderita,'' ungkap Direktur dokter Hj Ratna Ismoyowati MARS.

Khusus untuk pasien cuci darah, kini tidak hanya pasien warga Batang tapi juga penderita dari daerah tetangga seperti Kabupaten dan Kota Pekalongan.

Berbekal keunggulan dan kekompakan itulah, kini RSUD Kalisari tengah berbenah diri untuk meningkatkan tipenya dari kelas C menjadi kelas B.

Hal itu tentunya dilakukan dengan berbagai langkah dan inovasi.

''Pertengahan tahun ini, ruang anak dan ruang utama akan kami operasikan. Ini semua sebagai wujud dari peningkatan pelayanan,'' ujar Kabid Pelayanan dokter Debora.

Upaya lainnya adalah penambahan dokter spesialis khususnya untuk penyakit jiwa dan kulit.

Layanan pemeriksaan dokter spesialis jiwa sekarang ini baru bisa dilakukan satu bulan sekali setiap Kamis minggu keempat.

''Kami akan mengupayakan jadwal kedatangan dokter spesialis jiwa ini minimal satu bulan dua kali. Ke depan, kami berusaha agar ada dokter spesialis jiwa dan kulit yang definitif di RSUD Kalisari.''

Dokter Ratna mengungkapkan, sekarang instansinya memiliki masing-masing dua orang dokter spesialias anak, kebidanan, bedah, penyakit dalam.

Ditambah masing-masing satu dokter spesialis mata, THT, saraf, patologi klinik, radiologi, dan gigi. Sementara itu, untuk dokter umum ada enam orang.

Menjadi Kelas B

''Rencana meningkatkan menjadi kelas B ini mendapat dukungan penuh dari Bupati serta anggota DPRD. Sebagai sasaran, nanti peningkatan kemampuan pelayanan yang muaranya pada peningkatan PAD.''

Kabid Bina Program dokter Penny Sunarwati MM mengemukakan, persiapan menuju ke peningkatan kelas itu kini sudah dimulai dengan rencana untuk menata ulang masterplan bangunan rumah sakit, antara lain pembenahan bagian poliklinik.

''Nantinya kami akan memberikan pelayanan satu atap sehingga pasien tidak perlu ke sana kemari. Fasilitas yang ada, seperti ATM, wartel, retail, semua untuk mempermudah pemeriksaan.''

Selain itu, juga menambah tenaga paramedis dan melengkapi alat kesehatan.

Dengan demikian ke depan nanti, saat sudah berada di kelas B, RSUD Kalisari benar-benar menjadi tujuan orang Batang untuk berobat.

Itu semua akan dilakukan secara bertahap hingga 2008. Direncanakan, RSUD Kalsiari nantinya bertingkat.

''Pada akhirnya nanti, 11 pelayanan bisa dilakukan RSUD Kalisari Batang.''

Hal senada juga disampaikan Kabid Rawat Inap dokter H Kusdarmadji SpPD. Dia menekankan, untuk ke depan perlu dipertegas misi dan visi.

''Visi yang pokok supaya masyarakat Batang bisa dilayani di RSUD Batang,'' ujarnya.

Sementara itu, misinya adalah dengan keunggulan layanan perawatan menjadi rujukan bagi rumah sakit lain. Itu semua dilakukan dengan meningkatkan daya saing, kualitas pelayanan, rasa kenyamanan, dan jaminan keamanan.

''Memang untuk meningkatkan tipe dari kelas c menjadi kelas B, dilihat dari tempat tidur yang tersedia tidak ada masalah. Sekarang ada 146 tempat tidur, berarti untuk naik kelas tinggal menambah empat buah. Akan tetapi, itu tidak kami lakukan,'' ujar dokter Kusdarmaji.

RSUD Kalisari benar-benar tidak hanya sekadar naik kelas saja.

Namun, kembali pada upaya peningkatan pelayanan kepada masyarakat yang semakin maksimal.

''Salah satunya, kami terus mengoptimalkan keunggulan kami, seperti layanan cuci darah agar bisa menjadi rujukan rumah sakit lain.''

Dokter Ratna menuturkan, untuk pasien dari keluarga miskin, pihaknya juga tetap memberikan pelayanan prima.

Misalnya untuk jatah keluarga mikin di kelas III habis, pasien dipindahkan ke kelas II.

''Selisih biaya itu menjadi tanggung jawab pemerintah. Dan, ini juga sesuai dengan perintah Bupati agar pasein dari keluarga miskin tetap mendapat pelayanan yang sama. Itu sudah kami lakukan.'' (Arif Suryoto-34j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA