| Kamis, 31 Maret 2005 | PANTURA |
Soal Pencairan KreditManajer BMT Tuwel dan Staf BertengkarSLAWI - Perkembangan menarik dalam penyidikan kasus macetnya pencarian dana tabungan milik ratusan nasabah Baitulmal Wattamwil (BMT) Syariat Muamalat Tuwel, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal, terjadi kemarin. Ketika manajer, bendahara, dan bagian pembayaran dipertemukan, terjadi pertengkaran sengit dan saling tuding kesalahan dan lempar tanggung jawab. Manajer BMT Tuwel, Slamet Nawawi (35) yang menjadi tersangka mengatakan, seluruh pencairan uang atau peminjaman kredit ke BMT Lasem dan Induk Koperasi Simpan Pinjam (IKSP) di Jakarta sudah atas sepengetahuan pengurus, bendahara, dan bagian pembayaran. Sudah atas sepengetahuan jajaran pimpinan. Keterangan tersangka dihadapan dua penyidik Satreskrim Polres Tegal yang disaksikan langsung Bendahara BMT Tuwel, Mustamidah dan Bagian Pembayaran, Khaerul Umam (37) itu langsung dibantah keras oleh dua stafnya. Menurut Mustamidah, ide pengajuan kredit ke BMT Lasem dan IKSP -keduanya senilai Rp 320 juta- dilakukan sendiri oleh manajer. Bahkan pencairannya pun dilakukan oleh Slamet Nawawi. "Memang, saat pencairan dana kredit pertama sebesar Rp 120 juta dari BMT Lasem di BCA Slawi, saya diajak untuk ikut mengantar. Saya tidak tahu apa-apa?" tandas Mustamidah, kemarin. Semakin Terpojok Bantahan dari bendahara, didukung pula oleh bagian pembayaran, Chaerul Umam. Akibat bantahan itu , tersangka menjadi semakin terpojok. Tersangka yang kini berstatus tahanan Polres Tegal, tak dapat mengelak dari keterangan-keterangan yang diberikan dua anak buahnya. Penyidik meminta tersangka menguraikan penggunaan uang tabungan nasabah dan aset-aset BMT SM Tuwel secara jujur. Sebab jika memberikan keterangan berbelit, apalagi keterangan palsu, akan semakin mempersulit penyidikan. Kapolres Tegal, AKBP Drs Pambudi Pamungkas SH melalui Kasatreskrim, Iptu Syaiful Wahyudi mengatakan, selain mempertajam penyidikan atas perbuatan yang dilakukan tersangka Slamet Nawawi, pihaknya juga akan mengarahkan penyidikan ke jajaran pengurus lainnya. Sebagai misal, soal peranan bendahara dan bagian pembayaran, kata dia, mengapa sampai uang mudah dicairkan dan masuk ke kantong tersangka. Alasan-alasan atau bukti-bukti apa yang dijadikan pegangan untuk mengeluarkan uang milik BMT. "Itu yang akan kami perdalam," tandas dia. Selain itu, pencairan uang dari hasil penjualan aset BMT SM Tuwel juga tengah dipertajam penyidikannya. Dengan mengaitkan dua kasus tersebut, diharapkan akan terungkap soal bangkrutnya BMT tersebut dan lenyapnya dana tabungan milik ratusan nasabahnya.(D12-34a) |