| Kamis, 31 Maret 2005 | PANTURA |
Perlu Kesadaran WargaPENCEMARAN lingkungan, terutama saluran permukiman dan sungai kini sedang merebak jadi bahan perbincangan warga Kota Tegal. Dalam berbagai forum diskusi dan pertemuan antarwarga, soal limbah menjadi tema pembicaraan. Jawaban yang mencuat pun klise. Pemkot dinilai lamban dalam menangani persoalan pencemaran. Limbah cair ataupun padat yang terbuang kurang tertangani dengan baik. Padahal, ungkap Kasi Pengawasan Pengendalian dan Pemulihan Kantor Pedalda Dra Hendiati Bintang Takarini, mengatasi limbah pencemaran adalah tanggung jawab bersama. Artinya, ujar dia, kebersihan lingkungan yang bebas dari pencemaran itu merupakan kepentingan bersama baik pemerintah maupun warga. Dia mengemukakan, tingkat keparahan sebuah kasus pencemaran itu juga tidak luput dari peran warga sekitar dalam menjaga lingkungan masih rendah. "Perlu disadari, soal limbah itu tidak mungkin ditangani Pemkot semata. Contoh kecil saja, orang membuang sampah sembarangan di selokan. Sampah tersebut mengandung berbagai macam jenis limbah bahan kimiawi ataupun organik. Dari situ tentu saja akan bermuara ke sungai," paparnya. Karena itu, lanjut dia, pangkal utama untuk mengatasi limbah tersebut adalah pengutamaan kesadaran warga. Bahkan, menurut pendapat dia, alokasi dana yang relatif besar itu tidak akan menyelesaikan masalah tanpa diimbangi dengan kesadaran warga. Kenapa demikian? "Ya, sesuai dengan hasil penelitian limbah yang mencemari sungai itu sebagian besar merupakan bakteri koli yang disebabkan bukan dari pabrik tapi dari permukiman penduduk." Kendati demikian, dia tidak menafikan peran pelaku usaha untuk memprioritaskan kepentingan kelestarian lingkungan. "Guna merealisasikan hal tersebut, kami telah membuat kesepakatan bersama dengan 30 perusahaan untuk menjaga kelestarian dengan menandatangani program kali bersih. Mudah-mudahan kesepatakan tersebut dapat meminimalisasi tingkat pencemaran," harapnya. (Dwi Ariadi-34j) |