| Kamis, 31 Maret 2005 | WACANA |
Bangkitlah Pers Mahasiswa!Oleh: Dwi Elawati -Aktivis Badan Penerbitan dan Pers Mahasiswa UnnesPascareformasi tahun 1998, posisi pers mahasiswa (persma) semakin tenggelam. Pasalnya, terbukanya kran kebebasan pers memunculkan berbagai media massa yang menyajikan tulisan seperti ciri-ciri penulisan yang disajikan oleh persma selama ini, yakni pedas, keras, dan kental dengan idealisme. Sebelumnya, ketika Orde Baru, pers mahasiswa mampu menjadi media alternatif di masyarakat. Sebab, persma mampu tampil beda di tengah rezim yang represif terhadap kebebasan informasi. Persma juga berperan secara nyata dalam kehidupan masyarakat. Peristiwa Malari tahun 1974 dapat disebut sebagai salah satu contohnya. Waktu itu, persma "Suara Mahasiswa" dari Universitas Indonesia (UI), turut menyulut emosi massa lewat terbitannya, sehingga mahasiswa dan rakyat bersama-sama turun ke jalan. Aksi anarki melengkapi demonstrasi itu. Persma "Suara Mahasiswa" pun dibreidel, karena dianggap sebagai salah satu provokatornya. Ketika reformasi tahun 1998, persma juga cukup berperan. Melalui tulisan-tulisannya, persma mampu menyadarkan publik terhadap buruknya sistem rezim Orba. Persma menuntut ditegakkannya demokrasi dan hak asasi manusia (HAM) yang selama tiga puluh dua tahun dilecehkan. Setelah reformasi, yang menghasilkan terbukanya kran kebebasan pers, posisi persma menjadi kurang diperhitungkan. Sebab, hampir semua pers umum saat ini memiliki gaya seperti persma, yang lugas, tanpa perlu takut lagi dengan ancaman pembreidelan. Kendala Presma Ada dua hal penyebab lambatnya pergerakan persma. Pertama, dualisme posisi aktivis persma, yakni sebagai mahasiswa dan wartawan kampus. Di satu sisi, aktivis persma harus berperan sebagai wartawan kampus yang membutuhkan waktu tidak sedikit. Sementara itu, di sisi lain, mereka juga tidak boleh melupakan tugasnya untuk belajar sebagai mahasiswa. Padahal, pekerjaan wartawan merupakan pekerjaan "di bawah tekanan", karena selalu dikejar deadline terbit. Kedua, persma tidak mampu mengimbangi cepatnya perubahan dunia yang ditandai berkembangnya teknologi. Persma kurang mampu merespons dengan cepat fenomena yang terjadi di masyarakat. Lemahnya sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki menjadi salah satu faktornya. Hal itu karena kebanyakan pola kerja persma yang hanya tertuju pada wilayah keredaksian, dan cenderung mengabaikan wilayah lainnya, seperti penelitian dan pengembangan (litbang). Untuk itu, perlu dilakukan langkah-langkah strategis agar pergerakan persma menjadi lebih dinamis. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan. Pertama, melakukan proyeksi ke depan, berupa perencanaan yang tertata. Bahkan bila perlu ada semacam blueprint yang menjadi pemandu dalam pergerakan persma. Di situlah urgensi litbang. Sebab, memang dibutuhkan orang-orang yang secara khusus merencanakan dan memantau pergerakan persma. Hal ini jelas tidak akan mampu ditangani oleh mereka yang berada di bagian redaksi, sebab tenaga, waktu, dan pikiran mereka telah tersita oleh tugas-tugas keredaksian. Kedua, perlu ada dinamisasi struktur kepengurusan. Yang selama ini terjadi, pergantian kepengurusan persma sangat lama. Bahkan boleh dibilang "sampai akhir hayat menjadi mahasiswa". Maksudnya, aktivis persma yang belum lulus akan terus memangku jabatannya sampai wisuda. Hal itu, membuat arus kaderisasi menjadi terhambat. Efeknya, juga berpengaruh terhadap situasi kerja persma karena tiadanya semangat atau nuansa baru. Efek itu juga berpengaruh terhadap kecepatan dan ketepatan kerja, sehingga deadline terbit hampir selalu dilanggar. Oleh karena itu, perlu ada percepatan pergantian kepengurusan agar dapat memicu terjadinya percepatan kerja persma. Pergantian itu juga untuk menghadirkan suasana dan gagasan baru yang juga mendukung percepatan kerja. Ketiga, pengembangan jaringan antarpersma. Hal ini perlu untuk memperkuat eksistensi persma dan menggerakkan hubungan antarpersma. Tidak mungkin persma akan berkembang tanpa memiliki kekuatan. Salah satu caranya melalui pengembangan jaringan. Sebenarnya hal itu telah ada, seperti Persatuan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) untuk tingkat nasional atau Empersemar (jaringan pers mahasiswa se-Semarang) untuk tingkat Semarang. Namun sayangnya, organisasi-organisasi itu tidak diurus dengan sungguh-sungguh, sehingga sampai saat ini boleh dikata tidak ada jaringan atau hubungan yang erat antarpersma. Bila masalah-masalah itu dapat diatasi, dapat dipastikan persma dapat kembali seperti masa kejayaannya dulu, sebagai media alternatif yang memiliki peran signifikan dalam perubahan bangsa. Ayo, bangkitlah persma! (29) |